senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Menjawab Asumsi MenKo Perekonomian, Hatta Rajasa

leave a comment »

 

Dalam tajuk rencana koran Kompas edisi  Selasa, 27 november 2012 (27/11/12), Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015. Alasan yang diungkapkan oleh MenKo Perekonomian ini sederhana, investasi akan selalu mendekati sumber daya alam dan pasar. Namun apakah benar demikian realita yang akan terjadi atau akan menjadi sebuah analogi “teori yang tidak senyawa dengan tindakan” ?

Sebelum melihat tantangan yang akan Indonesia hadapi dalam Pasar Tunggal ASEAN yang kurang lebih akan terbentuk dua tahun lagi. Ada baiknya mengamati dengan cermat apa maksud dari asumsi ekonomi MenKo Perekonomian Hatta Rajasa mengenai arus investasi yang akan selalu mendekati sumber daya alam dan pasar. Menurut teori perdagangan konvensional (yang juga disebut sebagai model berkah keuntungan atau teori H-O yang berasal dari penemu teori tersebut yaitu Hecksher dan Ohlin),keuntungan komparatif akan membentuk pola perdagangan dimana sebuah negara akan memiliki otonomi untuk menentukan spesialisasi perdagangannya (Gilpin R. G., 2000). Dengan demikian, faktor seperti sumber daya alam, modal dan tenaga kerja menjadi “faktor berkah” yang diyakini akan memberikan keuntungan tersendiri bagi sebuah negara, demikian halnya yang dipercaya oleh MenKo Perekonomian. Teori perdagangan konvensional ini dapat mempermudah menjelaskan asumsi yang telah diungkapkan oleh MenKo Perekonomian, Hatta Rajasa dalam menyikapi Pasar Tunggal ASEAN 2015. Keuntungan komparatif Indonesia yang diyakini sebagai “faktor berkah” tidak menjadi harga mutlak dalam menjamin aliran investasi bagi Indonesia.

Realita yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam pasar tunggal ASEAN tidaklah semudah apa yang diasumsikan oleh MenKo Perekonomian Hatta Rajasa. Konsep pasar tunggal ASEAN yang berbasiskan perdagangan bebas memang merupakan cita-cita bersama yang telah disepakati dalam ASEAN Economic Community(AEC). Konsep pasar tunggal ASEAN memiliki dua alat ukur utama dalam pelaksanaannya. Pertama adalah zero tariff barrier dan dihapuskannya non-tariff barrier, dan yang kedua adalah kebebasan pergerakan arus modal, barang, jasa dan tenaga kerja (Djafar, 2012). Oleh karena itu, asumsi MenKo Perekonomian tidaklah dapat secara holistik menjawab tantangan realita Indonesia dalam pasar tunggal ASEAN mendatang.

Demikian, terkait asumsi MenKo perekonomian mengenai strategi Indonesia dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015 mendatang, ada perspektif lain yang dapat digunakan untuk melihat lebih dalam mengenai strategi Indonesia dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN. Adanya pergeseran paradigma perdagangan yang sedang terjadi membuat posisi Indonesia dalam perdagangan tidak lagi berada dalam keuntungan komparatif, melainkan keuntungan kompetitif (Gilpin R. , 2001). Dalam hal ini Indonesia tidak lagi hanya dapat mengandalkan keuntungan komparatif sumber daya alam, modal dan tenaga kerja. Memang harus diakui, Indonesia sangat melimpah dalam hal sumber daya alam, menempati posisi ketiga terbesar ASEAN dalam menyerap investasi setelah Singapura dan Malaysia serta Indonesia memiliki bonus demografi yang melimpah sampai tahun 2030 yang tidak dimiliki oleh negara lain, namun pasar tunggal ASEAN yang dihadapi kelak adalah pasar kompetisi yang akan menguji kualitas terbaik. Menurut teori O-Ring, ada satu faktor yang dapat membantu sebuah negara untuk meningkatkan persaingan dalam perdagangan yang semakin kompetitif. Faktor itu adalah peningkatan kualitas tenaga kerja. Perbaikan kualitas tenaga kerja Indonesia yang nantinya memiliki keterampilan (skilled labour) menjadi signifikansi penting dalam mendorong perdagangan, sekaligus juga faktor ini memiliki efek menjalar terhadap pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Dengan pasar yang terbuka bagi pergerakan modal, barang, jasa dan tenaga kerja dalam kerangka pasar tunggal ASEAN, Indonesia juga harus telah memiliki bonus demografi yang memiliki keterampilan. Dengan begitu, dapat dipastikan hal tersebut meningkatkan posisi tawar Indonesia baik secara ekonomi dan politik di ASEAN. Secara sederhana, “faktor berkah” yang telah dimiliki Indonesia ditambah dengan bonus demografi berkualitas akan membuat Indonesia memiliki posisi tawar kompetitif yang sangat luar biasa.

Dalam dua tahun mendatang, pasar tunggal ASEAN adalah sebuah hal yang tidak terelakan. Indonesia harus mempercepat dan berakselerasi lebih cepat dalam mempersiapkan dirinya. Dengan liberalisasi perdagangan dunia yang terjadi secara cepat, akses pasar akan menentukan apa yang akan menjadi keinginannya. Sebelum terlambat, pemerintah Indonesia harus mempersiapkan pasar domestiknya terlebih dahulu sebelum nantinya akan terintegrasi dengan pasar regional dan lebih jauh lagi terintegrasi dengan pasar global. Pemerintah sendiri harus berbenah, sehingga efektifitas pembenahan pasar domestik dapat dilakukan dengan lebih cepat. MenKo Perekonomian Hatta Rajasa harus membukan matanya lebih lebar, “faktor berkah” bukan datang dengan sendirinya memberikan keuntungan bagi Indonesia, melainkan Indonesia yang harus menjemput peluang tersebut. Salah satunya adalah memanfaatkan bonus demografi.

Referensi

Buku

Djafar, Z. (2012). Peran Strategis Indonesia dalam Pembentukan ASEAN & Dinamikanya. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Gilpin, R. G. (2000). The Challenge of Global Capitalism. New Jersey: Princeeton University Press.

Gilpin, R. (2001). Understanding Global Political Economy. New Jersey: Princeton Universtiy Press.

Written by polhaupessy

Februari 11, 2013 pada 3:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: