senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Krisis 2008, Perspektif Joseph E. Stiglitz

leave a comment »

“There is a clear answer: the high interest rates and cutbacks in expenditures that the IMF and U.S. Treasury pushed –just the opposite of the policies that the U.S. and Europe followed in the current crisis” –Joseph E. Stiglitz

Saat ekonomi dunia jatuh dengan bebas (freefall) pada tahun 2008, demikian juga halnya dengan kepercayaan tiap aktor terhadap ekonomi. Pandangan yang melihat stablitas perekonomian dunia, mengenai Amerika yang kuat dan para pemikir rezim ekonomi neo-liberalisme yang dianggap ‘pahlawan’ juga ikut jatuh dengan bebas.

Stgilitz melihat bahwa para “pahlawan’ ekonomi yang menurut majalah times edisi februari tahun 1999 sebagai “the committee to save the world” atau komisi penyelamat dunia sebenarnya adalah penyebab utama jatuh dengan bebasnya perekonomian AS pada saat krisis 2008 terjadinya. Komisi yang dijuluki sebagai komite untuk meyelamatkan dunia terdiri dari ketua the Federal Reserve (the Fed) Alan Greenspan, Menteri Keuangan AS Robert Rubin, serta Lawrence Summers. Menurut Stiglitz, apa yang diagungkan kepada komite penyelamat dunia adalah berlebihan karena sebenarnya kebijakan yang diambil untuk mengatasi krisis Asia 1997 dan krisis Rusia 1998 adalah sebuah kekeliruan pemahaman mengenai fondasi pokok makro ekonomi modern, dimana kebijakan fiskal dan moneter semakin diliberalisasi ketika terjadi krisis atau penurunan ekonomi.

Berdasarkan kekeliruan para penyelamat dunia dalam memahami fundamental masalah yang sebenarnya, telah menciptakan krisis baru yang lebih besar. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah krisis tahun 2008 di AS. Krisis 2008 di AS lebih mengerikan dengan depresi besar yang terjadi tahun 1930. Terkait dengan kepercayaan yang telah hilang terhadap ekonomi dunia, jelas bahwa sebuah dampak sebagai konsekuensi dari kebijakan yang sangat neo-liberalisme ini adalah deregulasi setiap struktur ekonomi yang telah terbentuk sebelumnya. Deregulasi sebagai sebuah ide telah membuat kepercayaan terhadap ekonomi pada mulanya menjadi dominan, namun berubah menjadi tidak dominan ketika krisis yang dihasilkan melalui deregulasi bersifat tidak hanya ekonomi, melainkan juga menjalar terhadap politik dan sosial.

Kalau memang benar apa yang diyakini oleh para penyelamat dunia untuk menangani sebuah krisis, bahwa pasar yang bagi mereka adalah segala-galanya akan mengatasi permasalah tersebut, Stiglitz mempertanyakan mengapa pada saat krisis 2008 terjadi, pasar tidak memilih mekanisme terbaik untuk menyelesaikan krisis tersebut. Bagi Stiglitz, menemukan kembali akar penjelasan krisis 2008 akan cenderung konfliktual dan tidak akan ada ujung perdebatannya. Oleh karena itu, beradasarkan apa yang telah diyakini oleh Stiglitz maka ada yang salah dalam mekanisme pasar. Bagaimana mungkin, perliaku aktor-aktor pasar seperti bank, korporasi besar dan para investor yang akan mengikuti mekanisme pasar, namun justru menjadi faktor yang menentukan dalam terjadinya krisis. The Subprime Mortgages dan meningkatnya instrumen untuk berhutang telah membawa pasar ekonomi AS masuk dalam sebuah kepanikan dan menyebabkan spekulasi yang sangat cepat dari para investor, yang menyebabkan perpindahan uang keluar dan masuk AS lebih cepat dan hanya bersifat sementara. Secara sederhana, perilaku aktor yang berjalan tidak sesuai dengan mekanisme pasar ini adalah sebuah konsekuensi karena peran pemerintah dalam membatasi peran para aktor tersebut. Sehingga timbul kekacauan dan ketidakpastian serta berdampak pada ketidakpercayaan terhadap perekonomian.

Terjadi Perubahan Dalam Struktur Ekonomi AS

Dengan sistem ekonomi yang semakin terintegrasi menjadi satu melampaui batas-batas negara, pasar menjadi semakin dominan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kehadiran aktor-aktor baru non negara telah membuat hubungan pasar dengan negara semakin kompleks dan tendensinya telah membuat negara semakin kehilangan otoritas dalam mengatur perekonomiannya sendiri. Aktor-aktor non negara seperti IMF, World Bank dan WTO semakin membuat kebijakan tiap-tiap negara berada dalam satu jalur yang sama. Sehingga kontrol politik dari suatu negara akan perekonomian sermakin sulit untuk dipertanggungjawabkan. Lebih sering fenomena itu disebut dengan perekonomian dunia yang semakin terglobalkan atau Globalized International Economy (Gilpin, 2001). Aktor-aktor non negara seperti IMF, World Bank dan WTO (sebelumnya adalah GATT) adalah Bretton Woods System –atau di kenal juga dengan sebutan rezim ekonomi internasional –yang dibentuk untuk mengatur perdagangan internasional dan hubungan-hubungan keuangan internasional. Dengan terbentuknya Bretton Woods System, maka setidaknya ada tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian dalam kebijakan ekonomi yang akan diambil suatu negara melalui Bretton Woods Conference. Pertama adalah mengenai nilai tukar dalam perdagangan, yaitu bahwa nilai tukar berada dalam keadaan tetap dan dipancang. Kedua mengenai kebijakan ekonomi makro, yaitu bahwa transaksi neraca berjalan hendaknya terlepas dari sebuah kendali negara dan ketiga adalah mobilitas modal internasional yang diperbolehkan. Ketiga hal ini kemudian terkonstruksi menjadi rezim ekonomi internasional yang semakin saling keterkaitan antara satu negara dengan negara lainnya ditambah dengan keterkaitan antara aktor-aktor non negara dalam Bretton Woods System dan Multi-National Companies (MNCs) yang saling mempengaruhi. Sehingga melihat integrasi ekonomi seperti ini, maka negara akan mengalami kesulitan untuk mengatur kebijakan ekonomi domestik negaranya secara otonom. Menurut Paul Krugman, fenomena ekonomi global seperti ini adalah sebuah konsekuensi integrasi ekonomi yang bergerak dengan cepat melampaui batas-batas kekuatan politik, sehingga berdampak pada perekonomian dunia yang terintegrasi secara parsial.

Meninjau kembali kepada pandangan mengenai Globalized International Economy, bahwa pandangan mengenai perekonomian yang diyakini telah terintegrasi secara global namun parsial saat ini sejalan dengan apa yang dipandang dengan Hayek. Oleh karena itu, pandangan Hayek banyak digunakan kembali oleh para pemikir-pemikir neo-liberalisme. Mereka memperbaharui diri mereka dan lebih sering dikenal dengan sebutan nama neo-liberal institusionalisme. Pandangan ini tetap mengakui negara penting dalam hubungan internasional, namun peran negara dalam pandangan neo-liberal institusionalisme memandang bahwa negara berorientasi pada pasar. Neo-liberalisme institusionalisme memandang bahwa peran institusi internasional lebih berperan penting dibandingkan negara dalam berperan saat melihat keadaan pasar.  Alasannya adalah bahwa semakin terintegrasi dan kompleks dunia, berbeda dengan dunia yang terbentuk pada saat pertama kali rezim ekonomi internasional Bretton Woods System dibentuk, dimana ekonomi dunia pasca Perang Dunia II di dominasi kuat oleh kehadiran Amerika Serikat sebagai mesin penggerak ekonomi dunia. Demikian, untuk mengatasi hambatan-hambatan bagi perdagangan oleh Amerika Serikat dan Inggris bagi negara-negara lain, institusi internasional digunakan sebagai rasionalitas utama untuk menjembatani hambatan politik yang tetap menjadi kontrol dominan dari suatu negara. Institusi internasional kemudian memiliki peran penting dalam mengelola perekonomian dunia sebagaimana tiga hal utama yang telah diputuskan oleh rezim keuangan internasional, Bretton Woods System. Namun dalam bangunan konstruksi institusi internasional, sebenarnya dapat dijelaskan bahwa Bretton Woods System telah mengalami pergeseran. Pada saat pembentukan awal Bretton Woods System sangat bersifat Keynesian, namun telah terjadi perubahan dalam norma dan aturan dalam Bretton Woods System itu sendiri, sehingga rezim dalam ekonomi internasional tersebut telah mengalami perubahan, yaitu menjadi Bretton Woods System bersifat Hayekian.

Terkait pada hal yang pertama, pada awal mula pembentukan Bretton Woods SystemBretton Woods System ala Keynesian –sistem moneter internasional telah menentukan nilai tukar tetap yang dilakukan dengan maksud stabilisasi sistem moneter yang dapat dicapai lewat pengikatan setiap mata uang pada aset-aset non moneter, dimana emas pada saat itu dijadikan pilihan aset nilai tukar tetap. Sejak awal pembentukan, Bretton Woods System ala Keynesian memiliki prinsip bahwa stabilitas nilai tukar internasional dapat dijaga dengan melakukan beberapa cara sebagai berikut; tingkat nilai tukar tetap namun fleksibel dengan memungkinkan negara-negara individual bereaksi dalam keadaan luar biasa, kredit cadangan penuh apabila terjadi permasalahan dalam pembayaran internasional dan kesepakatan antara negara-negara anggota untuk memancang harga emas sebesar US$ 35 setiap ons, menyediakan cadangan moneter bagi negara-negara yang sedang mengalami defisit. IMF sebagai institusi internasional yang menjamin stabilitas nilai tukar internasional dalam hal ini bertanggung jawab dengan prinsip ini.

Namun terdapat perubahan dalam rezim yang mengubah norma dalam IMF itu sendiri ketika AS pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970. Saat ini AS yang menjadi peran utama dalam menjaga stabilitas dollar mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan stabilisasi harga, sehingga menyebabk nilai tukar terhadap Dollar secara tidak langsung menggantikan emas sebagai pusat utama dalam nilai tukar yang fleksibel. Dengan begitu, sebagaimana yang diungkapkan oleh Presiden Perancis Charles De Gaulle bahwa hegemoni dollar pada akhirnya menjadi sumbu utama landasan politik dan ekonomi bagi AS dan mungkin saja AS dapat mencetak sebanyak-banyaknya dollar untuk menciptakan stablitas harga bagi keuntungan dirinya sendiri. Terlebih pada tahun 1980an, terjadi perubahan besar dalam Rezim ekonomi internasional yang menyebabkan IMF tidak lagi berfungsi sebagaimana yang dimaksudkan oleh Bretton Woods System ala Keynesian. Sehingga, jelas dalam hal ini telah terjadi perubahan dalam rezim ekonomi internasional dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan harga.

Written by polhaupessy

Februari 22, 2013 pada 6:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: