senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Utopia Aku dan Demokrasi Malaysia

leave a comment »

 

??????????????????????????????? “Kalau boleh aku memuji Malaysia, maka aku akan bilang begini : sistem transportasi yang mapan dan murah aku bisa nikmati setiap hari, penginapan yang lebih murah dibandingkan di kotaku, hampir tidak bertemu kemacetan, bersih, teratur dan tidak memiliki sentimen pribadi terhadap orang Indonesia……Namun sayang, aku harus mengatakan yang sejujurnya tentang Malaysia: Kota yang sepi ketika malam hari tiba, berkumpulnya anak-anak sekolah dengan hanya yang berasal dari kesamaan ras (seperti India dengan India, Cina dengan Cina, Melayu dan Melayu), tidak adanya diskusi menarik  di tempat umum tentang politik negara, mata sinis polisi dimana-mana, Roh dinamisme interaksi sosial lesu. Kesimpulannya, kota ini sangat maju dalam kematian suasananya”

Agen-Struktur atau Struktur-Agen?

Malaysia bisa dikatakan berada lebih depan dalam hal pembangunan dari Indonesia. Sebagaimana analogi berlari, tentu Malaysia berlari lebih cepat dibandingkan dengan Indonesia. Kesimpulan itu datang ketika berada satu minggu disana. Berada di tiga kota utama di Malaysia seperti Kuala Lumpur, Penang dan Malaka adalah sebuah pengalaman menarik tersendiri untuk mengamati bagaimana negara itu berprilaku setiap harinya. Kota-kota tersebut menjadi menarik karena disebut sebagai kota-kota pariwisata Malaysia, mungkin seperti Jakarta, Jogjakarta dan Bali apabila dikomparasi dengan Indonesia.

Namun dibalik semua hal menyenangkan itu, ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan. Untuk melihat mengenai bagaimana prilaku masyarakat yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari menjadi catatan tersendiri bagiku, terlebih idealisme ini terbentuk karena ilmu hubungan internasional dan filsafat yang sedang kutempuh. Melihat kehidupan disana, mengingatkanku sekaligus menginspirasiku mengenai penjelasan antara Hubungan agen dan struktur (agent-structure relations) dalam perspektif konstruktifisme. Hubungan antara agen yang dapat mempengaruhi struktur dalam interaksi sosial akan membentuk sebuah pemahaman mengenai fenomena sosial yang terjadi, namun bisa juga sebaliknya struktur yang mempengaruhi agen dalam berinteraksi sosial yang kemudian menciptakan identitas masyarakat di sana. Dengan kata lain secara sederhana seperti ini, Perilaku masyarakat (agen) dapat terbentuk akibat pengaruh Negara (struktur) lewat aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintahnya.

Suara pikiran yang tertuang sebagai prolog-ku diatas menjadi dasar atas segala rasa keingintahuanku terhadap negara ini. Mengapa masyarakat disana bisa bertahan hidup dalam sebuah kemajuan-kemajuan dalam kehidupan, namun mereka tidak bisa merasakan hak hidup mereka yang telah diberikan oleh Tuhan? yang aku maksudkan disini adalah Inalienable Rights mereka yaitu kebebasan. Kemajuan-kemajuan yang dirasakan masyarakat Malaysia rasanya tidak sepadan karena harus ditukar dengan kebebasan mereka. Aku rasakan hal ini karena aku adalah anak muda yang dibesarkan oleh masa kebebasan di Indonesia.

Sebagai latar belakang singkat, Malaysia adalah sebuah Negara yang menggunakan Syariat Islam sebagai dasar konstitusi Negara. Negara menjadi dominan, dimana peran kebebasan masyarakat sangat terbentur satu dengan yang lainnya menyesuaikan dengan acuan ajaran agama Islam. Padahal, dalam negara itu terdapat juga etnis lain yang memeluk keyakinan yang berbeda. Bahkan dalam beberapa kota penting yang aku datangi disana, beberapa etnis seperti Cina dan India memegang peran penting dalam kemajuan negara ini.

Aku tidak terlalu mengenal syariat Islam, karena memang aku tidak memeluk keyakinan itu. Faktor syariat ini, menurutku telah menjadikan masyarakat menjadi berprilaku sebagaimana penilaianku terhadap mereka. Tapi kenapa masyarakat mau menerima syariat Islam begitu saja kalau hal itu jelas telah mengambil kebebasan mereka. Dengan syariat Islam terbentuk menjadi struktur resmi suatu negara yang terinstitusionalisasi dengan baik, maka ofisialisasi agama dalam negara tidak dapat terhindarkan dan mempengaruhi prilaku masyarakat dalam bertindak. Mungkin bahasa ini terlalu berat, institusionalisasi dapat diartikan sebagai pelembagaan, maka aplikasi sederhana untuk melembagakan agama adalah melalui Undang-Undang. Dan ofisialisasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai pengakuan resmi agama dalam kehidupan dalam bernegara yang menjadi dasar negara.

Kerusuhan ras pada tahun 1969 telah membuat masyarakat Malaysia yang mayoritas etnis Melayu secara otomatis menguasai pemerintahan. Untuk menciptakan tatanan sosial yang teratur, maka aturan mayoritas dilakukan. Namun aku lebih suka menyebut aturan mayoritas ini sebagai tirani demokrasi karena mayoritas berhak menentukan pilihan karena memiliki suara yang lebih banyak. Memang sampai saat ini Malaysia belum pernah secara resmi mendeklarasikan mereka adalah demokrasi, bahkan dalam literatur ilmu politik pun Malaysia tidak dapat diklasifikasikan sebagai negara demokrasi. Namun, dengan melihat pendistribusian kekuasaan kepada mayoritas sejak tahun 1969 – yang kemudian menjadi tatanan sosial masyarakat Malaysia sampai sekarang –maka dapat aku katakan kalau sebenarnya ini adalah demokrasi ala Malaysia.

Demokrasi Malaysia dengan demikian ditandai dengan kehadiran tirani mayoritas dan penggunaan syariat Islam sebagai dasar negara. Masyarakat yang terbentuk melalui ‘demokrasi Malaysia’ ini telah menciptakan hubungan negara terhadap masyarakat dan negara menjadi senjang dan menimbulkan jurang-jurang kesejahteraan kaya miskin yang semakin melebar. Dahulu, karena tirani mayoritas mendistribusikan kekuasaan terhadap etnis Melayu, maka keuntungan-keuntungan banyak dirasakan oleh etnis Melayu. Namun, perjalananku disana membuktikan telah terjadi perubahan keuntungan dalam masyarakat –dimana seharusnya melalui syariat Islam masyarakat etnis Melayu diuntungkan –menjadi berbanding terbalik meskipun menggunakan syariat Islam. Etnis Cina dan Etnis India justru semakin banyak memainkan peranan penting dalam kehidupan bernegara di Malaysia, terlebih lagi dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan penting ekonomi dan politik. Apakah ini sebuah kebetulan, bagaimana mungkin sebuah negara (struktur) dengan syariat Islam dapat lebih menguntungkan bagi yang tidak memeluk keyakinan islam, yang notabene-nya adalah (agen) etnis Cina dan India?

Dalam perspektif konstruktifisme, hubungan agen-struktur yang saling membentuk saling kesepahaman akan menghasilkan sebuah identitas bersama yang diakui dalam tatanan sosial tersebut (Wight, 2006). Secara sederhana, maka negara melalui kehadiran syariat Islam menghasilkan identitas non-melayu bagi etnis Cina dan India karena etnis Melayu mendapatkan prioritas sebagai pemenang sejarah pasca kerusuhan tahun 1969 yang membuat tirani mayoritas berkuasa. Namun, identitas yang terbentuk justru sebaliknya, yaitu bagaimana masyarakat dengan identitas non-Melayu dapat mempengaruhi negara meskipun belum memiliki dampak mengubah struktur tersebut. Dalam jangka pendek, memang pengaruh para agen (etnis non-Melayu) terhadap struktur (negara) tidak terlalu terlihat karena syariat Islam sebagai identitas mayoritas etnis Melayu masih membentuk identitas mereka dalam tatanan sosial. Namun dalam jangka panjang, semakin menguatnya pada agen dalam mempengaruhi struktur niscaya akan merubah struktur tersebut. Para etnis non-Melayu akan merubah negara yang beridentitas syariat Islam pada bentuk yang lebih baru. Pada titik ini, aku lebih cenderung melihat perubahan itu mengarah pada tatanan demokrasi liberal.

Demokrasi liberal menjadi lebih berpretensi untuk teraplikasi menjadi bentuk identitas baru yang akan diciptakan oleh para agen yang telah berhasil membentuk struktur baru tersebut. Identitas demokrasi liberal telah mendapatkan tempat penting dalam etnis non-melayu bahkan sebagian etnis Melayu, meskipun dinamikanya masih kecil. Hubungan agen yang mengubah struktur semakin berpretensi menjadi demokrasi liberal semakin menguat ketika terdapat faktor internal dan eksternal, apabila aku menggunakan perspektif konstruktifisme maka aku menyebutnya endogenous dan exogenous (Kauppi, 2010). Faktor endogenous ini dapat meliputi dinamika ekonomi-politik negara ini sendiri terhadap aktor-aktor lokal yang berada didalamnya. Dengan kata lain, hubungan-hubungan agen-struktur seperti yang telah dijelaskan diatas atau sebaliknya. Aku secara jujur melihat bahwa tekanan politik etnis non-Melayu akan menguat di Malaysia. Sedangkan faktor exogenous akan sangat dipengaruhi dengan dinamika struktur internasional, minimal struktur regional. Faktor exogenous menjadi pendorong terbentuknya identitas demokrasi liberal yang akan menjadi hasil interaksi dalam hubungan agen yang berhasil mengubah struktur. Aku melihat bahwa identitas demokrasi liberal yang terbentuk nanti akan didorong oleh kapitalisme ekonomi yang akan menjadi motor Malaysia dalam kebijakan perekonomiannya.

Aku Utopia ?

Kebebasan masyarakat Malaysia yang telah dialienasi oleh negara selama hampir 43 tahun pasti akan ditagih kembali. Kebebasan adalah pemberian dari Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat lagi, diperjualbelikan, ditukar ataupun diperdagangkan. Maka, dengan pretensi yang telah aku lihat dengan bergeraknya agen non-Melayu yang semakin menguat dan penting, maka hal ini bukanlah sebuah keniscayaan.

Mungkin pandangan aku terhadap Malaysia akan aku analogikan nukan seperti menilai lukisan yang bagus atau tidak, tapi bagaimana cara menggambarnya dan mengerti maksud lukisan tersebut, apakah aku bisa menggambar sebaik itu. Dengan sederhana, Malaysia bisa berlari lebih cepat dari negaraku meskipun kebebasan masyarakatnya dirampas. Namun mengapa negaraku yang memiliki kebebasan tidak bisa berlari lebih cepat daripada yang tidak memiliki kebebasan? Biarlah Malaysia menjadi lukisan yang dapat kita nilai bagus atau tidak, dan mencoba untuk menggambar lebih baik dari lukisan itu….

Referensi

Kauppi, P. R. (2010). International Relations Theory. Cambridge: Pearson.

Wight, C. (2006). Agents, Structures and International Relations: Politics As Ontology. Cambridge: Cambridge University Press.

Written by polhaupessy

Maret 1, 2013 pada 10:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: