senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Kok banyak Bank “Bule” sih?

with one comment

Apa yang salah dengan kehadiran Bank “Bule” di Indonesia?

tidak ada yang salah dengan Bank “Bule”..

Hanya ketika kepemilikan Bank “Bule” telah mengambil porsi kedaulatan Indonesia,

disitu letak kesalahannya..

Porsi Kedaulatan adalah sebuah bagian dimana seharusnya bisa memiliki pengaruh lebih kuat dalam mengatur bangsanya sendiri, dalam hal ini adalah perbankan nasional

 

Fakta yang membuktikan keberadaan Bank “Bule” di Indonesia telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah dunia perbankan nasional. Per Maret 2011, kepemilikan Bank “Bule” di Indonesia telah mencapai 50,6% dari total aset perbankan nasional yang mencapai 3.065 Trilliun yang tersebar dalam keberadaan 47 Bank (Hadi, 2012). Ini berarti bahwa kepemilikan “Bule” atas perbankan Indonesia mendominasi.

Bank “Bule” tidaklah salah ketika mereka memiliki kepemilikan di Indonesia. Bagaimana tidak, kehadiran Bank “Bule” ternyata di dukung oleh pemerintah Indonesia melalui pemberian kepastian hukum yang berpihak pada mereka. Sebagai informasi tambahan, Indonesia merupakan negara yang paling “murah hati” di dunia ini karena memberikan keleluasaan gerak bagi kepemilikan “bule” atas perbankan. Menurut Biro Riset Infobank dalam majalah Infobank, batas kepemilikan “Bule” di Indonesia mencapai 99%, bandingkan saja dengan AS, Malaysia, Vietnam dan China yang hanya memberikan batas kepemilikan hanya sebesar 30%. Bahkan, Nigeria hanya memberikan kepemilikan “Bule” terhadap perbankan nasional hanya sebesar 10%. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa kalau kita melintasi Jalan M.H. Thamrin atau Jalan Jenderal Sudirman maka Bank “Bule” banyak berdiri disana dengan gedung-gedung tinggi mereka yang menjulang.

Semakin banyaknya kemunculan Bank “Bule “ di Indonesia ternyata juga sejalan dengan dengan meningkatnya liberalisasi keuangan secara global. Pasar saham dan pasar modal menjadi dampak dari derasnya liberalisasi keuangan secara global. Pesatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masuk ke Indonesia dan meningkatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukan bahwa sistem keuangan dan perbankan Indonesia dibanjiri oleh dana investasi global. Masalah yang kemudian muncul dengan fenomena ini adalah bahwa ke-dinamis-an pasar finansial dan pasar modal justru menimbulkan tekanan bagi produktifitas perekonomian, semisalnya adalah dengan meningkatnya beban anggaran pemerintah karena meningkatnya Suku Bunga BI. Ditambah lagi karena kebanyakan aliran modal yang masuk ke Indonesia bersifat “Hot Money” (dana panas) karena penempatannya bukan sebagai investasi langsung, tapi sebagai instrumen investasi yang mudah untuk ditarik keluar dan masuk ke Indonesia tanpa regulasi yang jelas mengatur. Dalam jangka pendek, ini akan memberikan keuntungan bagi sebagian pihak tertentu, dalam jangka panjang, maka struktur pertumbuhan ekonomi akan sangat bergantung pada sektor ini.

Dari titik inilah, Bank “Bule” memiliki peranan penting dalam sistem keuangan dan perbankan di Indonesia. Kebanyakan Bank “Bule” tidak lagi memiliki fungsi sebagai tempat penyimpan uang, namun lebih digunakan sebagai tempat untuk mengambil uang. Artinya, Bank “Bule” merupakan fondasi terus mengalirnya aliran modal asing yang hanya digunakan untuk mengambil investasi yang masuk sebagai keuntungan jangka pendek.

Pengertian mengenai istilah-istilah ekonomi seperti diatas memang sangat sering memberikan kebingungan dalam memahami ekonomi itu sendiri. Maka perlu ada elaborasidalam bentuk konkret atas redaksional kontekstual seperti diatas.

Ada ilustrasi sederhana yang dapat dijadikan contoh untuk mengerti hal ini. Sering kali kita (atau mungkin hanya pemerintah saja) beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi 6% adalah sebuah kekuatan ekonomi Indonesia. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah ekonomi balon, yang besar namun tidak memiliki isi. Melalui kehadiran banyak Bank “Bule”, sektor finansial secara terus menerus disokong untuk bertahan karena aliran investasi atau “Hot Money” tersebut. Oleh sebab itu, ekonomi yang tumbuh justru tidak menciptakan jumlah lapangan pekerjaan. Peran Bank “Bule” kemudian tidak memiliki fungsi intermediasi yang menjadi sumber aliran kredit bagi sektor riil di Indonesia. Akibatnya, sektor riil menjadi kalah proporsi dalam jumlah modal untuk menunjang perekonomian Indonesia. Ketimpangan aliran kredit ini membuat sektor riil bertumbuh lebih kecil dibandingkan sektor finansial dan akhirnya tidak memberikan dampak langsung terhadap masyarakat. Kesimpulan sederhana, keberpihakan Bank “Bule” terhadap pasar finansial yaitu pasar saham dan pasar modal telah membuat perekonomian Indonesia memang tumbuh 6%, namun tidak memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan Indonesia. Selain itu, kalau kita melihat aftermath dari ini, maka dapat terjadi konglomerasi dalam dunia perbankan di Indonesia. Konglomerasi disini berarti bahwa perbankan akan semakin tersentralisasi dalam mengalirkan aliran kredit dengan ekspansif ke berbagai sektor keuangan yang lain seperti asuransi atau sekuritas. (coba tengok film yang dibuat Michael Moore yang judulnya Inside Job, ini menggambarkan tentang disfungsi perbankan yang gue maksudkan).

Dari titik inilah seharusnya, kepemilikan Bank “Bule” harus dikaji kembali oleh DPR dengan membuat regulasi dalam mengatur kepemilikan Bank “Bule” di Indonesia. Sehingga ketimpangan keberpihakan dalam perekonomian Indonesia dapat tereduksi.

DPR perlu untuk mengubah Undang-Undang tentang Perbankan apabila porsi kedaulatan dalam sektor perbankan ingin berpihak sektor riil, yang notabene-nya sektor ini yang akan banyak sekali menyerap tenaga kerja Indonesia. Efek sederhananya, ekonomi tidak dikuasai oleh segelintir orang dan pengangguran pun akan berkurang.  UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan harus berani untuk diubah oleh DPR. Dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan ini, diatur bahwa kepemilikan Bank “Bule” tidak dibatasi namun memperhatikan prinsip kemitraan. Selain itu, Peraturan Pemerintah (PP) No 29. Tahun 1999 tentang Pembelian Saham Bank Umum juga harus diubah. Akibat dari PP No. 29 Tahun 1999 inilah yang membuat menjamurnya Bank “Bule” yang dominan itu.

Melihat pada sejarah terbentuknya kedua regulasi negara ini, maka sebenarnya pengaruh dari Asing dalam struktur internasional sangat kental terlihat. Apalagi, rentang waktu tahun 1998 dan 1999 merupakan tahun dimana Indonesia sedang terkena Krisis. Oleh karena itu, 14 tahun pasca krisis tersebut Indonesia harus berani untuk lepas dari ketergantungan-ketergantungan tekanan Asing, khususnya dalam dunia Perbankan dan Finansial nasional.

Ditelusuri dari sejarah, maka terdapat beberapa aktor yang sebenarnya sangat dominan dalam mempengaruhi terbentuknya regulasi dunia Perbankan. IMF sebagai contoh nyata, melalui Letters Of Intent (LOI) dan Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) telah menggambarkan bahwa regulasi terhadap dunia Perbankan Indonesia sangat kuat dan kental. IMF menginginkan adanya restrukturisasi sektor finansial dalam jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu, melalui persetujuan LOI –sebagai tambahan, LOI ditandatangani Indonesia sebagai syarat mendapatkan dana pinjaman dari IMF tahun 1998-2002 –Indonesia terpaksa harus menyetujui privatisasi terhadap Bank-Bank  Pemerintah, dalam klausul LOI ini, maka pihak swasta akan dapat mendirikan Bank secara bebas di Indonesia (cikal bakal meningkatnya Bank “Bule”).

Oleh karena itu, jelas bahwa kepemilikan “Bule” terhadap sektor finansial dan perbankan Indonesia merupakan sebuah ancaman terhadap porsi kedaulatan Indonesia. Batas kedaulatan harus terus didengungkan meskipun derasnya liberalisasi sektor finansial dan perbankan yang semakin dinamisme. Kenapa? Indonesia yang tahu akan kebutuhan dirinya sendiri, bukan “Bule” atau pun aktor lain ….

Tergelitik untuk menilai hal ini ?

Written by polhaupessy

Maret 6, 2013 pada 1:01 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren! salut tep gua sama tulisan tulisan lu, kritis

    jiung

    Juli 20, 2013 at 3:59 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: