senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Sekuritisasi AS

with one comment

Netanyahu di sidang umum ke 66 PBB

Netanyahu di sidang umum ke 66 PBB

 

Upaya Amerika Serikat menjadikan isu pengayaan uranium Iran untuk membuat senjata nuklir menjadi ancaman bagi keamanan dunia adalah sebuah adalah bentuk sekuritisasi kepentingan nasional Amerika Serikat terhadap Iran, khususnya dalam menjaga hegemoni di kawasan Timur Tengah.

Sekuritisasi

Sekuritisasi, sebagaimana diungkapkan oleh Matt McDonald (McDonald, 2008), adalah sebuah usaha atau langkah menjadikan isu keamanan yang sebelumnya kurang dipertimbangkan menjadi penting untuk dipertimbangkan. Usaha AS untuk menjadikan isu nuklir Iran menjadi ancaman bagi negara-negara lain di dunia terus menerus dilakukan AS dengan demikian dapat dikatakan sebagai usaha sekuritisasi. Sekuritisasi yang dilakukan AS sampai sejauh ini boleh dikatakan berhasil.

Hal ini terbukti dengan keterlibatan komunitas internasional seperti DK PBB yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang melakukan penyelidikan terhadap beberapa fasilitas nuklir Iran yang dituduh melakukan pengayaan uranium untuk kepentingan militer, seperti fasilitas nuklir Parachin dan Natanz. Terlihat jelas, bahwa instrumen tekanan internasional digunakan AS sebagai sebuah maksud (means) untuk mereduksi kekuatan Iran apabila berhasil melakukan pengayaan uranium yang berpretensi sebagai senjata nuklir.

Tidak hanya itu, tekanan sekuritisasi AS juga dilakukan melalui perundingan multilateral. Perundingan nuklir Iran dengan enam negara lain yaitu AS, Inggris, Perancis, Jerman, China dan Rusia (P5+1) yang baru-baru ini dilakukan di Almaty, Kazakstan meskipun sempat berhenti sejak pertengahan tahun 2012.

Arti Penting Nuklir di Kawasan

Menurut Robert Art (1980) senjata nuklir menjadi instrumen politik dan keamanan dipercaya dapat memperluas keamanan sebuah negara dalam menghadapi ancaman negara lain, untuk mencapai kepentingan nasional dan juga alat dalam diplomasi internasional. Dengan kata lain, kepemilikan senjata nuklir adalah sebuah komoditas strategis dalam panggung politik internasional. Demikian terlihat jelas bahwa kepemilikan senjata nuklir bagi Iran adalah sebuah ancaman bagi AS khususnya dalam kawasan Timur-Tengah karena akan menaikan posisi tawar Iran dalam kancah politik internasional.

Apabila melihat arti penting senjata nuklir berdasarkan definisi Robert Art, maka paling tidak terdapat tiga hal penting yang dapat menjadi argumentasi mengapa AS berusaha secara terus-menerus untuk melakukan sekuritisasi melalui wacana kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

Pertama, kepemilikan senjata Nuklir oleh Iran berpotensi akan merubah distribusi kekuatan dalam kawasan. Setelah berhasil meredam Afganistan dan Irak yang merupakan rezim anti AS, maka persepsi ancaman rezim anti AS dikawasan Timur Tengah yang sangat berpotensi berasal dari Iran  (Walt, 2007). Kecaman internasional terhadap invasi Irak dan Afganistan menjadi pelajaran penting bagi AS untuk memiliki pendekatan yang lebih bersifat “Smart Power” (meminjam terminologi Joseph S. Nye) dibandingkan lebih memilih pendekatan yang bersifat Hard Power.

Ditambah lagi, adanya Unprecedented Phenomena Arab Spring telah memberikan keuntungan bagi AS untuk mempertahankan hegemoni dikawasan. Dorongan akan proses demokratisasi yang timbul dibeberapa negara kawasan membuat persepsi ancaman yang dipahami AS melalui rezim-rezim otokrasi menjadi tereduksi. Namun tetap penting untuk digaris bawahi bahwa Iran adalah menjadi pemain penting kawasan sejak revolusi, karena adanya potensi untuk melakukan balasan pasca kekalahan Perang Iran-Irak. Oleh karena itu, apabila Iran berhasil memiliki senjata nuklir, Iran akan merubah status quo kawasan ini. Terlebih lagi apabila dikaitkan dengan kekhawatiran Israel akan Iran yang dapat menjadi pesaing satu-satunya Israel sebagai kekuatan kawasan.

Kedua, apabila Iran berhasil memiliki senjata Nuklir, maka akan menciptakan efek domino bagi negara-negara kawasan Timur Tengah yang lain  (Bergenas, 2012). Iran sampai sejauh ini merasa yakin bahwa kepemilikan nuklir adalah hak setiap negara di dunia. Alasan ini adalah ancaman bagi AS, terlebih lagi bahwa Iran adalah satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang paling lantang menentang ko-eksistensi Israel.

Ditambah lagi bahwa Iran adalah negara yang didominasi oleh Islam aliran Syiah, dengan demikian akan menimbulkan persepsi ancaman khususnya bagi negara-negara kawasan yang didominasi oleh Islam Sunni, seperti Arab Saudi. Yang dengan demikian akan mendorong negara-negara kawasan yang lainnya (khususnya didominasi sunni) untuk memiliki senjata nuklir.

Oleh karena itu, dengan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, maka potensi timbulnya pecahnya perang terbuka menjadi sangat jelas terbuka. Karena faktor aliansi Iran dengan negara-negara sesama kawasan dipahami sebagai ancaman bagi sesama negara dalam kawasan dalam sudut pandang dunia Islam juga dipahami oleh AS sebagai ancaman, misalnya dengan aliansi Iran terhadap Suriah.

Ketiga, kepemilikan senjata nuklir oleh Iran akan menghambat proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Iran diyakini oleh AS akan memberikan dukungan terhadap Hamaz, Hezbollah dan kelompok Jihad Islam dimana kelompok ini selalu berkonfrontasi dengan AS dan Israel –dimana persepsi keamanan AS menyatakan kelompok tersebut adalah teroris. Ini  berarti, perang melawan terorisme yang dikobarkan AS pasca 9/11 belum selesai dan menambah kompleksitas AS dalam membuat kebijakan. Karena selain AS merupakan mediator damai Israel-Palestina, AS juga harus memikirkan aspek keamanan nasional dan kepentingan ekonomi AS pasca resesi. Jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir, maka apa yang telah dikatakan Hillary Clinton sebagai “U.S. future politics has been decided in Pacific” harus direvisi kembali (Clinton, 2011).

Upaya AS untuk meredam kepemilikan senjata nuklir Iran adalah jelas bentuk sekuritisasi AS terhadap kepentingannya di kawasan, namun Iran sejauh ini belum jelas memiliki senjata nuklir atau tidak. Kepemilikan rudal jarak jauh dan pengayaan uranium sejauh ini adalah dasar alegasi AS terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Bahkan, IAEA belum pernah menemukan indikasi itu. Pertanyaannya menjadi jelas, Apakah Iran benar-benar memiliki senjata nuklir? Dahulu Saddam Hussein dituduh memiliki WMD, tapi ternyata tidak ditemukan, mungkin dunia harus melihat dengan lebih jelas …….

Referensi

Bergenas, J. (2012). The Nuclear Domino Myth. Retrieved Oktober Senin, 2012, from Foreign Affairs: http://www.foreignaffairs.com/articles/66738/johan-bergenas/the-nuclear-domino-myth#

Clinton, H. R. (2011, October 11). America’s Pacific Century. Retrieved January 8, 2013, from US departement of state: http://www.state.gov/secretary/rm/2011/10/175215.htm#

McDonald, M. (2008). Constructivism. In P. D. Williams, Security Studies (pp. 59-72). Oxon: Routledge.

Walt, J. J. (2007). The Israel Lobby and U.S Foreign Policy. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Written by polhaupessy

Maret 8, 2013 pada 1:05 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. good😀 lanjutkan steven 13

    papa kilo

    Maret 17, 2013 at 2:33 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: