senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Pembangunan adalah …..

with 2 comments

 

“Money can’t buy happiness”- The Old Proverb

Pembangunan selalu diartikan sebagai sesuatu yang terlihat, sesuatu yang dapat diukur dengan angka-angka dan sesuatu yang dapat diperbandingkan dalam hal kemajuan. Padahal, tujuan dasar pembangunan adalah untuk menciptakan kebahagiaan bagi kehidupan si individu melalui sebuah keadaan yang disebut sejahtera. Namun, ide mengenai pembangunan telah melingkupi pemikiran hampir setiap orang di dunia ini. Ide mengenai pembangunan telah terbangun melalui pandangan modernisasi seperti yang diidentikan oleh Samuel Huntington –seorang ilmuwan politik AS, yang mendefinisikan pembangunan sebagai proses modernisasi (Huntington, 2005).

Mari melihat pembangunan yang terjadi di dunia ini berbeda dengan apa yang dilihat oleh Huntington. Pembangunan secara modernisasi tidak menjamin kebahagiaan bagi individu. Bhutan, sebuah negara yang terletak di antara RRC dan India –yang merupakan negara berpenduduk terpadat dunia –yang terletak di daerah pegunungan Himalaya dan berpenduduk hanya ±700.000 jiwa, serta hanya berpendapatan hanya (Menurut World Bank) sekitar US$ 760, yang tergolong sebagai negara miskin, ternyata memiliki kebijakan pembangunan yang berorientasi bukan pada pengukuran angka-angka atau apa yang dapat dilihat dan diperbandingkan, melainkan melihat pada tingkat kebahagian setiap warga negaranya. Bayangkan, tingkat kebahagiaan ! Bukankah setiap orang di dunia ini menginginkan kebahagiaan dan bukan angka-angka yang dapat berbentuk uang?

Kerajaan Bhutan sebagai otoritas pemerintahan mengambil kebijakan yang cukup menarik dengan melawan mainstream pembangunan yang secara domestik maupun internasional, pembangunan yang telah mengukur segala sesuatunya melalui angka-angka yang terlihat dan dapat diperbandingkan. Hal ini menjadi sangat menarik karena pada akhirnya manusia tidak lagi memikirkan angka-angka untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka.

Kebijakan Pembangunan pada suatu negara harus dilihat sebagai sebuah sinergi antara dimensi politik-sosial-ekonomi, juga pengaruh nilai kepercayaan dan kebudayaan yang dipegang oleh masyarakat. Bukan hanya bersandar pada dimensi Ekonomi maupun Politik.

Dalam merumuskan kebijakan Gross National Happiness, Kerajaan Bhutan melakukan sinergi melalui 9 dimensi utama kebijakan yang menjadi fokus pembangunan. Namun, pada tulisan ini penulis hanya akan membatasi pada satu dimensi. Dimensi ini menarik untuk dibahas karena dimensi ini juga menjadi pengkuran pembangunan yang sekarang menjadi mainstream utama dalam konsep pembangunan internasional. Dimensi itu adalah pengaruh tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Tata kelola pemerintahan yang baik bagi Bhutan bukanlah keadaan dimana transparansi dan keterbukaan informasi harus dilakukan, namun bagaimana membuat masyarakat hidup bahagia.

Namun, pada aliran mainstream pembangunan internasional, Tata kelola pemerintahan yang baik menjadi aliran konsep utama dalam mempromosikan pembangunan internasional saat ini. Sebagai contoh adalah Bank Dunia yang selalu mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik untuk menjamin pembangunan. Kemudian, tata kelola pemerintahan digunakan oleh negara-negara di dunia untuk menjadi ukuran pembangunan mereka. Bhutan dalam hal ini, berbeda dengan negara lain di dunia yang menjadikan tata kelola pemerintahan yang baik sebagai salah satu prasyarat pembangunan mereka.

Oleh karena itu, bukankah Bank Dunia seharusnya belajar dari Bhutan dalam hal ini? kebahagiaan setiap warga negaranya adalah dimensi tata kelola yang baik dapat diimplementasikan. Itu esensi dari tata kelola pemerintahan yang baik. Menjamin terciptanya kebahagiaan. Dalam konstitusi kerajaan Bhutan pasal 9, dijelaskan bahwa Negara harus bekerja keras untuk kondisi ini (tata kelola pemerintahan yang baik)  mencapai kesuksesannya, yaitu menjamin kebahgiaan setiap warga negaranya.

Kebahagiaan adalah sebuah nilai abstrak yang tidak dapat di nilai dan diukur. Bhutan memang mengukur kebahagiaan masyarakatnya dan bekerja keras untuk mencapai hal itu. Bisa jadi di Bhutan, Raja Bhutan dapat berkeliling wilayah Negaranya tanpa perlu khawatir di caci, maki terlebih diserang oleh masyarakatnya sendiri. Berkaca untuk Indonesia, konsep pembangunan kita bukanlah diukur dari kebahagiaan masyarakatnya, dan lebih senang meng-angka-kan masyarakatnya. Kebahgiaan adalah hal yang sangat subjektif. Dalam urusan Negara, Kebahagiaan Presiden SBY mungkin berbeda dengan kebahagiaan Raja Bhutan, apalagi dengan kebahagiaan saya. Ketika Presiden SBY bahagia melihat dirinya menjadi perumus Kebijakan SDGs (Sustainable Development Goals), saya lebih bahagia ketika UU Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 dan  TAP MPR No. IX/2001  dilaksanakan.

Namun, ukuran kebahagiaan sebenarnya dapat dilakukan di beberapa wilayah Indonesia, misalnya Papua.  Ingat, bahwa “Kebijakan Pembangunan pada suatu negara harus dilihat sebagai sebuah sinergi antara dimensi politik-sosial-ekonomi, juga pengaruh nilai kepercayaan dan kebudayaan yang dipegang oleh masyarakat. Bukan hanya bersandar pada dimensi Ekonomi maupun Politik”. Maka, Papua dalam hal ini bisa mengadopsi model pembangunan seperti ini. Ketika masyarakat Papua menggunakan pakaian adat mereka, Orang Jawa disini bilang mereka “Primitif”. Pada kenyataannya, mereka menggunakan koteka karena Budaya mereka yang suka melumuri diri mereka dengan minyak babi sehingga terlindung dari iklim dan kondisi alam di Papua, bukan karena mereka tidak modern. Dan esensi utamanya adalah bahwa Masyarakat Papua Senang akan hal itu.

Pada dasarnya, pengukuran yang dilakukan oleh aliran utama dalam menjelaskan pembangunan melalui angka-angka yang dapat diperbandingkan juga tidak sepenuhnya dapat menggambarkan keberadaan manusia. Tidak tepat juga disatu sisi, menyatakan bahwa pembangunan, seperti yang dikatakan oleh Huntington adalah identik dengan modernisasi, namun tidak salah juga apabila mengukur pembangunan yang ditinjau karena tujuan dasarnya: kebahagiaan si manusia itu sendiri. Oleh karena itu, model baru seperti yang dilakukan Bhutan bisa saja diadopsi menjadi model pembangunan kita. Model pembangunan seperti ini bisa dijadikan konsep alternatif pembangunan.

Oleh karena itu, esensi pembangunan adalah membuat manusia menjadi bahagia….

Do We Need IMF and World Bank ? :)

Do We Need IMF and World Bank ?🙂

Written by polhaupessy

Mei 30, 2013 pada 5:13 pm

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. opini yang menarik. salam kenal🙂

    Agnes Ginting

    November 24, 2013 at 7:14 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: