senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Munarman, Representasi Kebangkitan Fundamentalisme Islam?

with one comment

T: Dengar Dulu, Anda tidak tahu apa yang saya maksud…”

Tiba-tiba Munarman menyiram wajah Tamrin dengan air putih..

M: “Anda diam kalau saya ngomong…..”

Apa yang telah dilakukan oleh Munarman –Juru Bicara FPI -tadi pagi (28/6/13) di sebuah acara berita TV pagi hari itu memalukan. Munarman adalah representasi FPI, karena ia berbicara mewakili FPI. Dengan menyiram wajah Tamrin Tamagola –Sosiolog UI -dengan air putih, Munarman bukan hanya menunjukan ekspresi kemarahannya terhadap perbedaan pendapat, namun juga menunjukan bahwa FPI adalah bentuk intoleransi perbedaan umat beragama karena dianggap menciderai nilai fundamental Islam.

Tindakan koersif semacam itu sebenarnya mengganggu jalannya kehidupan kebebasan berpendapat di Indonesia, telebih lagi Munarman adalah representasi golongan Agama. Namun melihat sikap tidak toleran dan anarkistis seperti itu, Munarman sepertinya ingin mengirimkan sinyal penting ke depan publik bahwa FPI itu punya kuasa untuk memaksakan apa yang ingin dilakukan, membuat hukum sendiri dengan dalih bahwa apa yang mereka lakukan juga sebenarnya kehendak dari surga.

Dalam bahasa yang lebih akademis, Munarman menjadi salah satu aktor yang menjustifikasi keberadaan sekaligus kebangkitan Fundamentalis Islam di Indonesia. Betapa tidak, sikap Munarman adalah intoleransi pada sebuah perbedaan pendapat. Itu dilakukan dalam forum intelektual seperti diskusi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana apabila beliau dan FPI-nya melakukan aksi lain seperti Sweeping di bulan Ramadhan seperti yang sedang diperdebatkan. Mungkin kekerasan fisik juga digunakan untuk menjustifikasi apa yang dilakukan FPI.

Penting sekali melihat kejadian ini dalam perspektif kebangkitan Fundamentalisme Islam di Indonesia. Meskipun masyarakat Indonesia telah hidup dan mencoba masuk dalam tahap demokratisasi yang sifatnya substansial, namun adalah sebuah keniscayaan bahwa kebangkitan kelompok fundamentalis Islam bisa tereduksi dan tergantikan oleh golongan lain. Demokratisasi justru ikut menyuburkan munculnya Fundamentalisme Islam. Sederhana saja, Fundamentalisme Islam sangat mengganggu pluralisme di Indonesia, apalagi agenda utama mereka adalah penegakan syariat Islam.

Dalam sejarah Negara ini, kelompok fundamentalis sudah muncul dari masa ke masa semenjak Negara ini merdeka. Lihat saja Kartosuwiryo, yang mencoba garis perjuangan Fundamentalisme Islam melalui pembrontakan, atau Natsir yang mencoba perjuangan pembrontakan melalui partisipasi politik, ataupun juga NII yang mencoba untuk mendoktrinasi secara klandenstain masyarakat Indonesia dengan sasaran utama anak-anak muda. FPI dalam konteks ini muncul sebagai fundamentalis Islam berbasis masa yang lebih ‘demokratis’ dan memadukan ormas representatif garis keras yang tidak segan menggunakan kekerasan.

Kebangkitan Fundamentalisme Islam konteks FPI memiliki peluang simpati publik yang semakin dapat menguat. Alasannya adalah sederhana, bahwa FPI bukan hanya memiliki basis-basis massa yang kuat dan militan, namun FPI juga memiliki akses politik dan hukum yang kuat sehingga upaya untuk mereduksi perkembangan FPI menjadi sulit. Partai Keadilan Sosial misalnya, merupakan infrastruktur politik yang digunakan FPI untuk menyalurkan aspirasi politiknya setiap momentum tercipta. Selain itu, keakraban antara elit politik PKS dengan Polri juga sering kali di duga dapat mengurangi netralitas kepolisian ketika berhadapan dengan PKS, seperti yang diungkapkan oleh Hassanudin (Mantan Ketua PB HMI). Keterkaitan antara FPI dan infrastruktur politik seperti PKS juga menyuburkan relasi mutalisme bagi keduanya. Misalnya, dengan mengusung nilai-nilai Islam yang cenderung fundamentalis, PKS juga mendapatkan pengaruh suara publik semakin besar dalam setiap proses pemungutan suara, mengingat basis FPI diseluruh Indonesia berkisar hampir sekitar 3 Juta dengan 15 Juta simpatisan. Artinya, selain pada satu sisi FPI bisa mendapatkan akses politik dan hukum yang kuat, PKS disisi lain juga mendapatkan askes terhadap suara untuk pemilihan umum.

Disamping itu, sifat keormasan FPI yang semakin anarkistis ini tumbuh sumbur karena Pemerintah seakan-akan mengacuhkan regulasi untuk mengatur keormasan di Indonesia. Menurut UU No. 8 Tahun 1985 tentang Keormasan, Organisasi Massa yang brutal dan Anarkistis serta menciptakan kerusuhan serta melanggar ketertiban umum bisa dibubarkan seperti jelas tertera dalam pasal 13 UU Keormasan ini. dengan kata lain, seharusnya FPI masuk dalam kategori Ormas yang harus dibubarkan.

Menulusuri sepak terjang FPI, kejadian Munarman hanya merupakan gambaran kecil akan sikap intoleransi perbedaan yang coba untuk ditumbuh kembangkan di Indonesia oleh FPI. Insiden Monas tahun 2008 misalnya, merupakan bentuk aksi Fundamentalisme Islam intoleran dan koersif yang diusung oleh FPI, lebih lagi ketika itu terjadi ketika peringatan Kesaktian Pancasila pada 1 Juni. Ini harus dikritisi publik karena menggambarkan kekosongan regulasi yang seharusnya disediakan Negara untuk mengatur Organisasi massa agar hak setiap golongan dapat terjaga dalam satu sinergi.

Kebangkitan Fundamentalisme Islam akan terus mendorong tindakan-tindakan koersif berikutnya, demikian hal ini juga akan mengancam persatuan Negara kita. FPI harus dibubarkan, jangan hanya dijadikan wacana…..

Link Video Ketika Munarman menyiram wajah Tamrin –> http://www.youtube.com/watch?v=WOAF5zc2B1Y

Written by polhaupessy

Juni 29, 2013 pada 11:45 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Apa yang dilakukan Munarman memang dapat dibilang sebuah tindakan yang cukup memalukan, apalagi disiarkan secara langsung di televisi. Namun agaknya harus diperhatikan juga bahwa hubungan antara Munarman dan Islam tidak sesederhana itu. Memang Munarman dapat dikatakan beragama Islam, dan bekerja sebagai juru bicara sebuah ormas Islam, tapi apakah benar ia mewakili (ajaran) Islam? Perlu diingat juga bagaimana kepentingan yang membuat terbentuknya FPI sehingga mempunyai hubungan kuat dengan jendral-jendral dan institusi negara. Apakah penggunaan nama “Islam” cukup esensial atau hanya difungsikan sebagai tameng agar untouchable?

    Kejadian antara Munarman dan Tamrin Tamagola pun tidak bisa semudah itu disebut sebagai intoleransi beragama. Bisa saja kita melihatnya sebagai konflik antar individu, atau antara institusi yang diwakili (UI dan FPI). Karena apa benar para pembicaranya memang sengaja dihadirkan untuk mewakili perspektif dari berbagai agama?

    Setiap ayam memiliki paruh, tapi apakah yang memiliki paruh sudah pasti ayam?🙂

    Ahadi Bintang

    Juni 29, 2013 at 7:54 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: