senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

“Ini Puasa-ku, Kalau Kamu?”

leave a comment »

 

Seorang teman mengobrol asik dengan-ku menjelang waktu berbuka puasa. Tiba-tiba, rasa keingintahuan yang dimiliki olehnya, membuat ia memberikan aku sebuah pertanyaan,

 “sebenarnya orang kristen itu puasa atau nggak sih?”

gimana jawabnya yah?” Pikirku dalam hati,

sejujurnya aku merasa cukup tersentak ketika ditanya seperti itu, mengingat dulu pernah juga aku ditanyakan hal yang sama, dan justru jawaban yang aku berikan malah dipertentangkan agar terlihat bahwa puasa yang dilakukan menurut kepercayaan-ku itu tidak lebih baik dari kepercayaan dari orang yang bertanya kepadaku.

 Aku tidak mungkin memberikan jawaban dengan berdasar pada ayat-ayat yang ada dalam alkitab melalui intepretasiku. Terlebih pengetahuan aku akan agama juga tidak setingkat pendeta atau orang yang sangat rohani. Ditambah lagi, aku tidak mau memulai perdebatan dalam hal kepercayaan karena masih terdapat stigma pertanyaan sama yang dahulu juga pernah ditanyakan kepadaku.

Namun, aku mencoba sekali untuk mengemas jawaban ini dengan cara yang sederhana, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa terdapat salah satu kepercayaan yang lebih baik dalam hal berpuasa dibandingkan kepercayaan yang lain. Karena menurutku, lebih baik mencoba menemukan persamaan dibandingkan perbedaan terus-menerus dan aku tidak ingin membuat perdebatan mengenai kepercayaan.

Ada dong!” akhirnya, aku putuskan untuk menjawabnya.

Oh ya? Gimana tuh puasanya? Berapa lama harinya? Dari jam berapa puasanya? Bulan apa puasanya?” Sebelum sempat aku memberikan jawaban penuh, temanku ini memotong pembicaraan.

gue puasa kok, cuman gue ngga tergantung sama waktu aja” Aku coba Menjawab sambil berharap dia tidak lanjut bertanya lagi.

Lho, terus gimana, emang ngga diajarin dalam alkitab ya gitu?” temanku kembali bertanya lagi. Menurutku, pertanyaan yang ini semakin konkret dan membuat aku harus menjawab lebih tepat lagi, mau tidak mau aku harus menjelaskannya.

oh iya, gue cuma nanya yah ngga bermaksud gimana gitu. No offense, gpp kok kalau ga mau jawab” lanjut temanku sebelum sempat aku menjawab.

iya ngerti kok, woles aja” aku jawab dia.

Aku mengerti bahwa apa yang iya ingin tanyakan ini sebenarnya hanyalah rasa ingin tahu saja, tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang menyinggung, terlebih merasa menghakimi.

Aku meneruskan jawabanku, “berdasarkan Alkitab, gue juga diajarin untuk puasa, ada jumlah waktu puasa kayak yang elo maksud

berapa lama emangnya kalo di Alkitab?” lanjut temanku terus bertanya.

Semua yang ada di Alkitab itu adalah Rhema buat kita umatnya yang membaca-Nya” Aku lanjut menjawab.

tunggu, tunggu, Rhema tuh apa ya?” Temanku menyelak.

oh iya, Rhema,” aku merasa seperti terlalu alkitabiah untuk menjawab ini, tapi aku teruskan saja jawabanku karena sudah terlanjut kuucapkan, “Rhema itu Perkataan Tuhan dalam Alkitab yang secara elo ngga sadari ketika dibaca ada sebuah esensi yang mau Tuhan kasih buat kita.

oh gitu, tau deh, terusin deh” acuh temanku yang mungkin tidak terlalu ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai pengertian Rhema.

jadi, kalo puasa berdasarkan alkitab tuh, ngga secara langsung tertulis mengenai konteks waktu berapa lamanya kita harus puasa, tapi ada sebuah cerita dalam alkitab yang Rhema tadi itu membuat kita ngerti tentang puasa itu” aku coba terus menjawabnya dalam bahasa sederhana supaya dia ngerti.

nah, misalnya ada cerita di Alkitab tentang Nabi Ester yang puasa tiga hari tiga malam benar-benar ngga makan dan minum, hanya untuk meminta keselamatan atas bangsanya, jadi dari situ gue tau deh kalau ada puasa yang disebut Ester, dimana hal puasa itu punya maksud dibalik puasanya itu” dengan menyertakan sebuah contoh aku coba menjawab pertanyaannya ini.

ada juga Yesus yang berpuasa selama 40 hari 40 malam, pada saat itu juga Ia dicobai oleh Iblis, nah itu puasa dilakukan untuk menguatkan iman kita dari cobaan-cobaan dari dunia ini” aku coba memberikan contoh lain seraya aku coba menutupi penjelasan lain, bahwa puasa 40 Hari 40 malam Yesus juga dilakukan sebenarnya untuk melawan kuasa-kuasa kejahatan si Iblis, karena Yesus berpuasa pada waktu ia akan memulai pelayananNya.

nah terus lo pake puasa yang mana?” tanya temanku dengan penuh rasa ingin tahu.

Sebelum menjawab pertanyaan ini, seakan-akan ada yang mengingatkanku dalam pikiran untuk memberikan jawabannya. Seakan-akan itu adalah Rhema yang sedang diingatkan. Aku teringat sebuah ayat dalam Alkitab, yaitu Matius Pasal 6 ayat 16-18. Disitu aku bisa mengerti bahwa puasa adalah perkara umatnya untuk mendekatkan diri kepadaNya, dimana puasa adalah sebuah bentuk pengabdian diri dan sikap hati yang  merendahkan diri terhadapNya. Puasa bukan bentuk pamer kerohanian terhadap sesama, tetapi pamer kerohanian terhadap Tuhan, agar kita tahu sejauh mana keimanan kita tumbuh terhadapNya.

bukan soal pake puasa yang mana atau jenis apa nih, sob” aku kemudian memberikan jawaban yang menggantung.

Aku tiba-tiba diingatkan lagi. Kali ini melalui sebuah cerita dalam kitab Zakaria, tepatnya Zakaria 7 ayat 1-14. Ada sebuah cerita tentang Bangsa Israel yang berpuasa selama 70 tahun untuk meratapi kehancuran kota Yerusalem, namun ada 2 bulan dari setiap tahun puasa tersebut yang tidak diterima oleh Tuhan, atau bisa dikatakan tidak berkenan kepada Tuhan, meskipun mereka menjalankan ibadah sebagaimana biasa mereka lakukan. Puasa itu tidak diterima karena Puasa yang dilakukan Bangsa Israel hanyalah sekedar ritual kepercayaan dan tidak diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

tapi bagaimana kita menjalankan ibadah puasa itu” aku menambahkan.

Iya ya, bagaimana proses kita melakukannya aja, kan?” temanku memberikan respon.

iya benar” aku menjawabnya.

meskipun di hati dan pikiranku aku teringat akan sebuah kisah Alkitab dalam Yesaya 58. Dimana puasa yang dikehendaki oleh Tuhan tertulis adalah yang seperti ini: yaitu puasa dimana seseorang merendahkan diri dihadapan Tuhan, dan merendahkan hati dihadapan sesama.

 Meskipun seorang menjalankan ibadah puasa, namun bisa saja hati seseorang hatinya dari tujuan ia berpuasa, kadang hatinya memaki, berbantah-bantah dan berperilaku munafik, padahal esensi yang dihendaki Tuhan adalah ketika seorang yang berpuasa merendahkan dirinya.

oh jadi gitu ya puasanya” temanku menjawab seakan puas akan jawaban-jawaban yang aku berikan, namun aku merasa bahwa sebenarnya dia masih ingin bertanya lagi meskipun terlihat sungkan.

berarti kalo elo lagi puasa, bisa nggak ketahuan dong sama kita ya?” tambah temanku lagi.

iya, bisa juga sih gitu, tapi gpp lah” aku menjawab dengan ringan.

unik juga ya, kalo di gue begini, kalo di elo begitu” ketus temanku.

“ya makanya kita jangan coba cari perbedaan terus, tapi coba cari kesamaan aja” jawaban sederhana yang aku maksudkan untuk menutup pembicaraan itu.

“iya bener tuh, Lakum Dinukum Walyadin” timpal temanku sekaligus menyambut adzan maghrib untuk berbuka puasa.

“gue tahu tuh artinya!” seru aku karena tiba-tiba mengingat perkataan Nabi Muhammad.

 

-Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Untuk Teman-Teman Yang Menjalankannya

 

Written by polhaupessy

Juli 14, 2013 pada 8:53 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: