senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Titik Temu Sunni-Syiah?

with one comment

Katanya ini bulan penuh ampunan, Kenapa Sunni-Syiah Di Indonesia Tidak Saling Memaafkan Saja?

 

Titik Tolak

Pertama kali aku mengetahui ada pengelompokan Islam sunni dan syiah adalah ketika membaca pertama kali buku yang ditulis oleh Benazir Bhutto. Meskipun aku bukan berkeyakinan Islam, namun aku menganggap Islam patut dipelajari. Islam menjadi patut dipelajari karena aku hidup dalam masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Mengerti bagaimana Islam adalah sebuah keniscayaan sosial bagiku. Kebetulan, di Indonesia mayoritas Islam merupakan sekte Sunni. Semakin tertarik pula aku mengetahui apa yang membuat perbedaan mereka dalam satu identitas yang seharusnya sama itu, terlebih lagi ketika terjadi tindakan yang opresif terhadap masyarakat Islam yang merupakan sekte Syiah.

Bagi masyarakat Islam di Indonesia yang bermayoritas sekte Sunni, perbedaan sekte antara Sunni dah Syiah dapat terlihat sebagai sebuah tembok besar yang memisahkan interaksi sosial dalam tatanan masyarakat yang ada. Kalau mungkin disamakan, mungkin tembok itu mirip seperti tembok Berlin yang dibangun untuk memisahkan masyarakat Jerman Barat dan Jerman Timur yang sebenarnya adalah satu bangsa hanya berbeda ideologi.

Demikian juga dengan Sunni dan Syiah di Indonesia, kehadiran sekte Syiah bagi sekte yang menjurus pada saling opresif adalah sebuah kesalahan sosial yang tidak dapat dibiarkan terus berkembang. Memang belum ada pernyataan jelas dari kelompok Agama yang resmi mengenai hal itu. Namun sudah dapat dilihat jelas kalau apa yang telah terjadi di Sampang, Madura dan Kutai, Kalimantan Timur adalah sebuah bentuk penolakan jelas bagi sekte syiah di Indonesia.

Masyarakat Islam Sunni di Indonesia belum bisa menerima kehadiran Syiah sekalipun mereka adalah bagian dari Islam juga. Berangkat dari dugaan sementara aku mengenai hubungan kedua sekte ini, hal tersebut kemudian mendorongku untuk mengetahui apa sebenarnya perbedaan yang ada diantara kedua sekte ini. Penafsiran Islam sekte Sunni dan Syiah yang aku pelajari, seutuhnya aku dapat dari Benazir Bhutto dan juga melalui obrolan singkat dengan para Ustadz disekitar rumahku. Ini yang menjadi dasar pandanganku mengenai keseluruhan ide yang aku tuangkan dalam tulisan ini.

Aku tidak ingin mengatakan kalau dalam Islam telah terjadi perpecahan akibat hubungan tidak harmonis antara sunni dan syiah, namun aku tidak dapat menemukan kata yang tepat selain kata perpecahan untuk menggambarkan hubungan diantara keduanya. Konteks sejarah menjadi sangat penting ketika ingin menjelaskan hubungan antara dua sekte ini.

Konteks Historis Sunni – Syiah

Setelah kematian Nabi Muhammad, komunitas Muslim dipimpin oleh serangkaian pemimpin yang disebut khalifah. Penganut syiah percaya bahwa khalifah pertama adalah Ali. Ali adalah sepupu Rasul dan menikah dengan anak Rasul, Fatimya. Ali adalah satu-satunya adalah satu-satunya ayah dari cucu-cucu Rasul. Sementara syiah mengakui bahwa Ali adalah khalifah pertama adalah Ali bin Abu Thalib, sunni menyatakan bahwa khalifah pertama adalah Abu Bakar Shiddiq. Kesimpulan mengenai siapa pengganti Nabi Muhammad yang datang dari kedua sekte tersebut bukanlah sebuah alasan yang bukan tanpa sebab. Syiah menyatakan bahwa Nabi Muhammad ketika terakhir kali pulang haji, berhenti dan mengatakan pada sahabat-sahabatnya bahwa beliau menunjuk Ali untuk menjadi penerusnya. Sementara sekte sunni menyatakan bahwa ketika Nabi Muhammad sekarat, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai penerusnya.

Dari sini sudah dapat terlihat konteks sejarah yang menjadi dasar perbedaan antara sunni dan syiah. Hubungan konteks sejarah tersebut kemudian berlangsung pada kepemimpinan komunitas Muslim selanjutnya. Syiah yakin kalau imam pertama dengan demikian adalah Ali, sedangkan sunni menyakini bahwa Abu Bakar adalah imam pertama. Setelah Abu bakar, kepemimpinan kemudian dipegang oleh Umar bin Khattab dan Usman. Ketika Usman dibunuh, maka Ali kemudian menjadi khalifah keempat dan baru dapat diterima secara umum oleh kedua sekte.

Ketika itu, Muawiyah –keponakan Usman, menantang Ali dan pengikutnya untuk bertempur memperebutkan kekuasaan. Dampaknya, pemerintahan Ali mulai goyang dan semakin menimbulkan perpecahan dalam komunitas Muslim saat itu.  Kemudian Ali dibunuh dan digantikan anaknya, Hasan. Hasan kemudian diyakinkan mundur oleh Muawiyah, yang kemudian menjadi pemimpin bagi komunitas Muslim. Ketika Muawiyah meninggal, anaknya Yazid menggantikan Muawiyah dalam memimpin komunitas Muslim, namun sebagian komunitas Muslim menolak dan memilih Husein –anak kedua dari Ali, untuk menjadi pemimpin.

Ketika Husein ingin berangkat ke Damaskus –Suriah yang merupakan ibukota kesultanan Islam pada masa itu –dengan tujuan mengklaim tahta kekhalifan, ternyata dalam perjalanan disergap dan dibantai oleh pasukan Yazid. Titik tolak ini kemudian menjadi sebuah budaya dalam sebagian komunitas Muslim yang kemudian menamainya syiah, sebuah komunitas muslim yang dibangun dalam sebuah perasaan tertindas, tragedi dan pengorbanan diri yang kuat. Kematian Husein, kemudian diperingati sebagai “Ashura” yang berarti sepuluh dalam bahasa Arab, untuk mengenang pertempuran Karbala.

Dari sebuah peristiwa demi peristiwa yang terjadi telah semakin meruncingkan terbentuknya tatanan sosial dalam komunitas Islam sendiri yang tendensinya adalah konfliktual dan kontiniuitas. Pasca masa kekhalifahan dan perkembangan jumlah Muslim yang semakin meluas, semakin banyak terbagi pula komunitas Muslim dalam mazhab-mazhab sekte-sekte yang ada. Sebagai contoh, dalam Islam sunni, terdapat empat mazhab utama yang memiliki ciri khas masing-masing, khususnya dalam memandang hubungan Islam mereka dengan Islam syiah. Hanafi, Maliki, Shafi’i dan Hanbali. Aku tidak akan membahas semua mazhab tersebut dini, namun aku akan memberikan pembatasan eksplanasi pada satu mazhab yang akan memberikan pengaruh dan secara realitas dapat menggambarkan hubungan antara Islam sunni secara khusus terhadap Islam syiah, khususnya di Indonesia.

Dari mazhab Hanbali misalnya kemudian memiliki aliran lagi yang disebut Wahhabi –yang kemudian mendominasi kerajaan Arab Saudi pada masa ini. Kaum Wahabi menghancurkan banyak makam orang Muslim non-Wahhabi yang dianggap keramat dan banyak dikunjungi oleh orang untuk berdoa. Dalam hubungannya dengan syiah, Wahhabi sangatlah tidak toleran terhadap syiah. Pada tahun 1802 misalnya, ketika kelompok Wahhabi merebut Karbala –yang merupakan kota tersuci bagi kaum syiah –kelompok Wahhabi kemudian membantai setiap komunitas masyarakat yang beridentitas syiah. Karbala kemudian menjadi sebuah pesan bagi Islam syiah mengenai bagaimana sebuah harga harus dibayar untuk melawan sebuah paksaan tirani. Sementara itu, alasan yang kemudian diberikan oleh kelompok Wahhabi adalah bahwa membunuh syiah adalah sebuah kewajiban, karena kelompok syiah telah menimbulkan perang saudara dan pertumpahan darah bagi Islam.

Mengapa aku menyebutkan mazhab Hanbali dengan aliran Wahhabisme disini? Aku melihat bahwa tindakan konstruksi yang relevan telah terjadi pula di Indonesia ketika banyak kelompok syiah mulai dicoba untuk dihilangkan identitasnya. Mungkin aku salahdalam mengasumsikan tindakan sunni di Indonesia untuk nelihat fenomena ini. Namun, aku yakin bahwa tindakan manusia banyak yang merupakan hanya sebuah pengulangan demi pengulangan saja. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sunni Indonesia terhadap syiah adalah sebuah bentuk pengulangan yang sama sebagaimana Wahhabisme melakukannya.

Meskipun jumlah penganut Islam syiah secara keseluruhan di dunia ini tidak sebanding dengan jumlah penganut Islam sunni, yaitu hanya berjumlah 10-20% yang tersebar pada daerah-daerah tertentu saja seperti Iran, Irak, Suriah, Lebanon, Pakistan dan India. Namun pengaruh mereka terhadap Islam secara global cukuplah signifikan, terutama pada Islam itu sendiri.

Apabila aku tadi telah menyebutkan bahwa komunitas Islam sunni kemudian terbagi kembali pada beberapa mazhab dan aliran yang memiliki ciri khas dan karakterisitiknya tersendiri. Maka, begitu pula dengan Islam syiah yang juga memiliki ciri khas dan karakterisitiknya sendiri.

Ada tiga mazhab utama dalam Islam syiah, yaitu Imamiyah, Zaidiyah dan Ismailiyah. Imamiyah akan aku soroti relevansinya terhadap fenomena yang ada di Indonesia. Imamiyah merupaka kelompok syiah terbesar yang ada. Kelompok ini juga disebut sebagai kelompok syiah dua belas. Mereka tidak mengakui tiga khalifah pertama yang diakui oleh Muslim sunni yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman. Khalifah Ali adalah khalifah pertama yang merupakan garis keturunan langsung Nabi Muhammad karena Fatima –istri Ali, adalah satu-satunya anak Rasul yang hidup. Imamiyah disebut pula sebagai kelompok dua belas karena karakteristik khusus yang dimiliki olehnya, yaitu bahwa Imamiyah menganggap bahwa imam ke-12 adalah Imam al-Mahdi yang sebenarnya tidak meninggal yang sebenarnya tidak meninggal dan bersifat ghaib, dimana suatu saat akan datang kembali bagi kaum syiah. Kekhusuan syiah yang secara langsung memang bersifat konfrontatif dengan pemahaman sunni, secara tidak langsung juga semakin mengerdilkan dan mendiskreditkan kehadiran sunni dalam Islam. Kelompok syiah menganggap diri mereka lebih murni dalam Islam dibanding kelompok muslim karena Imam Ali, melalui hubungannya dengan Nabi Muhammad, adalah pemimpin guru yang sifatnya melebihi kemampuan luar biasa dan memliki prerogatif yang diturunkan Rasul sendiri.

Aku melihat bahwa sifat Imamiyah seperti ini telah menghinggapi sebagian masyarakat Islam Syiah di Indonesia. Oleh karena itu, persepsi ancaman dari Islam Sunni di Indonesia semakin menguat dalam melihat kehadiran Syiah. Persepsi bahwa syiah kemudian dianggap sesat dan menilai kalau syiah selalu bersifat ingin balas dendam karena memang itulah yang diajarkan melalui peringatan “Ashura”, atau juga karena persepsi ancaman yang meningkat karena semakin berkembangnya syiah dalam jangka panjang di Indonesia akan menyebabkan perang saudara, sebagaimana Wahhabisme melihatnya.

Titik Temu Sunni – Syiah? Sebuah Konstruksi Perdamaian.

Ukhuwwah Islamiyyah

Menjaga solidaritas ke-Islam-an melalui persaudaraan sesama Muslim. Bagaimana hubungan antara sunni dan syiah seharusnya bersifat saling menghargai setiap perbedaan yang ada, meskipun dalam satu kepercayaan sekalipun. Maksud ungkapan diatas juga jelas melihat bahwa sebenarnya Islam sebaiknya jangan terpecah.

Hubungan solidaritas Islam antara sunni dan syiah apabila ditelusuri akar sejarah yang ada dalamnya maka akan menunjukan sebuah fenomena yang sangat menarik. Ada dimensi Ke-Islam-an yang menyatukan perbedaan-perbedaan ini. Sebagai contohnya, Imam Abu Hanifah yang merupakan seorang ulama Sunni ternyata adalah seorang murid dari Imam Ja’far Shadiq yang merupakan seorang Syiah. Hal ini mungkin belum diketahu oleh banyak kaum Muslim di Indonesia, namun sebenarnya setiap perbedaan yang ada sebenarnya adalah titik temu dimana persaudaraan dan solidaritas Islam bertemu. Sebenarnya hal ini cukup menggelikan apabila dibandingkan dengan beberapa contoh yang aku miliki informasinya. Misalnya, ada seorang ulama Syiah yang sebenarnya biasa memberikan ceramah di Masjid Sunda Kelapa, namun karena tiba-tiba diketahui identitas ke-Syiah-annya, maka ulama tersebut tidak pernah diberikan lagi kesempatan untuk berceramah di masjid tersebut. Ya, itu menggelikan namun itulah kenyataan.

Oleh karena itu, alasan tindakan yang saling menyakiti sesama atas nama Islam seharusnya tidak dilakukan, terlebih hal itu dilakukan pada sesama umat.

Ukhuwwah Wathaniyyah

Persaudaraan kerukunan umat dalam Bangsa dan Negara. Pengelompokan Islam sunni dan Islam Syiah yang ada berdasarkan dua garis besar mazhab yang berpengaruh, khususnya di Indonesia telah ikut membentuk struktur tatanan sosial yang ada dalam masyarakat yang beragama Islam Indonesia.

Setiap agama yang masuk pada sebuah daerah dapat terdistribusi oleh berbagai macam cara. Masuknya Islam baik sunni maupun syiah di Indonesia otomatis akan berakulturasi dengan budaya setempat dimana agama itu akan masuk. Oleh karena itu, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa agama memiliki identitas sebagai sebuah budaya dalam masyarakat. Tidak terkecuali bagi Islam Sunni dan Syiah yang masuk ke Indonesia. Meskipun kerajaan Islam pertama berada di Aceh –kerajaan Samudera Pasai –namun penyebaran tercepat dan termilitan terjadi di Jawa. Melihat perkembangan yang telah terjadi sampai sekarang, terlebih Jawa adalah sebuah pula dengan kepadatan penduduk yang paling padat di Indonesia, bahkan dunia. Struktur masyarakat Islam Jawa yang terbentuk oleh sekte sunni dan syiah tidak dapat dilepaskan dari pengamatan yang ada.

Kenyataannya justru akulturasi budaya tersebut malah membawa pada kerawanan sosial dalam masyarakat. Nasionalisme sebagai kesatuan Bangsa seakan-akan luntur ketika harus berhadapan dengan paham-pahama keagaman yang ada.

Ukhuwwah  Insaniyyah

Persaudaraan Kemanusiaan. Melihat apa yang terjadi dalam realitas sosial antara hubungan Sunni – Syiah di Indonesia, alasan ini menjadi konstruksi titik temu paling logis untuk membentuk perdamaian di antara dua sekte Islam ini.

Dalam politik bernegara dapat dikaitkan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai dan hak asasi kemanusian setiap warga Negara. Karena Indonesia bukanlah Negara yang menganut paham Sekularisme, maka Negara bisa mengatur ini dan mengintegrasikan melalui sebuah kebijakan. Dengan sederhana, Negara bisa memimpin perdamaian antara kedua sekte ini. Ini bisa dimulai melalui kemauan secara politik yang dimotori oleh pemimpin Negara yang bersinergi dengan kelompok-kelompok keagamaan yang terkait.

Apa ini titik temu? Mungkin sih, toh ini cuma pemikiran iseng….

Written by polhaupessy

Juli 18, 2013 pada 8:52 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Menarik sekali. Seandainya saja rekan-rekan saya yang muslim bisa sejernih anda dalam menilai sejarah
    ….. Damai dan kerukunan itu mahal serta menguras energi… (y)

    yoni nugraha

    Desember 20, 2013 at 2:28 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: