senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Keamanan Dalam Negeri dan Nuansa Politik

leave a comment »

Tulisan ini telah dipublikasikan pada Koran Sindo edisi Kamis, 3 Oktober 2013.

 

images (2)

Terdapat pameo yang mengatakan bahwa, “Memilih kebebasan melalui demokrasi berarti mengorbankan keamanan bersama, tetapi memilih rasa aman harus mengorbankan rasa kebebasan melalui demokrasi”. Apa benar bahwa pameo tersebut memang sedang terjadi ditengah masyarakat Indonesia yang semakin demokratis?

Rasa aman yang semakin mahal dan sulit dirasakan oleh masyarakat luas menjadi hal niscaya bagi masyarakat. Dalam tiga bulan terakhir, Indonesia Police Watch (IPW) merilis bahwa terdapat 22 kasus penembakan misterius terhadap masyarakat, tidak terkecuali juga terhadap polisi. Penembakan yang terjadi terhadap Polisi di Cirendeu, Ciputat, Pondok Aren, Kuningan dan Cimanggis baru-baru ini menunjukan bahwa terdapat motif tertentu yang bertujuan untuk menyebarkan teror ditengah masyarakat. Belum lagi jika melihat meningkatnya angka kriminalitas yang semakin tinggi –setiap 91 menit terdapat satu tindakan kriminalitas-, keamanan masyarakat seakan-akan menjadi harga yang harus dibayar bagi kebebasan yang sedang dinikmati melalui demokrasi.

Secara resmi Polri menyatakan bahwa isu-isu keamanan tersebut sering dikaitkan dengan beragam motif seperti terorisme, isu persaingan bisnis pengamanan swasta dan juga hanya merupakan motif pribadi. Namun, ketika hal seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali saja, maka fenomena ini adalah sebuah pola (Pattern) dan bukan kebetulan saja. Fenomena-fenomena yang menjadi sebuah dilema bagi keamanan dalam negeri sangat kental bernuansa politik. Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar menyatakan bahwa pada masa Orde Baru belum pernah ada Polisi yang ditembak, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Berdasarkan pernyataan tersebut, seakan-akan terdapat upaya dari sebuah pihak yang melaksanakan teror untuk membangun opini publik bahwa keamanan dalam negeri pada masa orde baru lebih baik dibandingkan saat ini, meskipun situasi politik tidak demokratis. Jika ditelusuri lebih spesifik lagi, maka ada kemungkinan untuk menggiring opini publik untuk memlih presiden pada 2014 nanti yang memiliki latar belakang kuat dalam menjaga keamanan dalam negeri seperti yang dilakukan pada masa Orde Baru, mengingat bahwa terdapat beberapa Calon Presiden yang kental dengan nuansa keamanan Orde Baru. Selain itu, spekulasi yang timbul ditengah masyarakat juga sering dikaitkan dengan kisruh yang terjadi dalam penataan hubungan keamanan sipil dan militer. Nuansa politik yang mengorbankan keamanan masyarakat ketika hal itu menyentuh pengaturan terhadap hubungan keamanan dalam negeri.

Agenda yang mengaitkan bahwa urgensi kehadiran KamNas dalam RUU Kamnas seakan-akan dapat menjadi jawaban untuk menciptakan keamanan dalam negeri. Kalau memang keamanan masyarakat luas sering dipolitisasi dengan kepentingan pihak-pihak tertentu, maka bukan tidak mungkin yang menjadi korban adalah demokratisasi yang sedang dirajut oleh Indonesia dan tahapan substansial demokratisasi yang ingin dimasuki oleh Indonesia. Jadi, Pilih Demokrasi atau Keamanan? Atau, Bisa mendapatkan Keduanya?

Written by polhaupessy

Oktober 10, 2013 pada 6:26 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: