senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Filosofi Pendakian Puncak Mahameru

leave a comment »

 

Menjelang pergantian tahun 2013 menuju 2014, angin muson barat tidak hanya bertiup dari benua Asia menuju Australia dengan membawa curah hujan tinggi namun juga membawa saya untuk mendaki Gunung Semeru. Gunung dengan ketinggian 3.676 m diatas permukaan laut memiliki daya magis yang dikononkan oleh masyarakat Jawa memilih sendiri para pendakinya.

Siapa yang tidak mengenal Mahameru? Puncak yang konon dipindahkan dari India oleh Dewa Wishnu dan Brahma yang menjelma menjadi kura-kura dan ular raksasa. Puncak yang diyakini sebagai titik equlibrium Pulau Jawa, titik keseimbangan. Puncak dimana Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhir pada 18 Desember 1969. Puncak tertinggi di Pulau Jawa ini telah menjadi impian para pendaki gunung untuk ditaklukan. Ketinggian 3676 meter diatas permukaan laut memiliki daya tarik dan ceritanya sendiri.

Mahameru !

 

Perjalanan panjang yang telah dilalui tidak serta merta membuat saya menjadi gagah karena gambar yang dapat diabadikan maupun cerita-cerita pendakian yang dapat dibagikan. Pelajaran tentang bagaimana hidup sebenarnya adalah ibarat pendakian sebuah gunung.

Di atas segala hal itu, pelajaran yang bernilai adalah yang terutama. Mendaki Puncak Mahameru berarti tidak hanya berbicara mengenai antusiasme menaklukan puncak tertinggi, semangat kerelaan untuk berjalan dalam waktu yang panjang, beban ransel yang dipikul ataupun menghalau pikiran yang mudah lelah. Mendaki gunung melainkan pula juga berbicara mengenai kesabaran untuk menikmati puncak, keyakinan hati akan tujuan yang ingin dicapai, dan belajar mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, bahkan bersyukur pada apa yang akan kita miliki di masa yang akan datang.

Bagi para pendaki, sudah menjadi hal lumrah yang dapat dinikmati Cuma-Cuma kalau keindahan lukisan nyata Tuhan yang Maha Esa terkanvas nyata di Ranu Kumbolo, Oro-Oro Ombo, maupun Puncak Mahameru. Tapi seberapa banyak yang menyadari bahwa lukisan Tuhan ini ingin mengajarkan manusia arti pelajaran hidup. Siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh, dia yang akan mendapatkannya. Pendakian Mahameru ingin mengajarkan manusia untuk hidup mengejar apa yang kita inginkan dengan penuh kesungguhan, sekaligus penuh kerendahan hati serta rasa syukur.

 

Written by polhaupessy

Januari 10, 2014 pada 8:01 am

Ditulis dalam Jalan-Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: