senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

3 Gugatan Untuk Capres-Cawapres Aneh!

with 2 comments

 

jokowi-atau-prabowo-kamu-yang-tentukan

jokowi atau prabowo, kamu yang tentukan !

 

Hari ini adalah hari senin, tanggal 19 Mei 2014, cukup cerah di pagi hari tapi bercucuran air tanda langit yang sedang sedih. Tanah menjadi basah. Semoga tidak pertanda hal aneh pada Ibu Pertiwi.

Hari ini adalah tepat sehari sebelum hari Kebangkitan Nasional yang jatuh besok pada 20 Mei, memberikan ramifikasi pada konstelasi politik nasional yang hampir menemukan bentuknya sebelum klimaks pada 9 Juli 2014 nanti. Bentuk konstelasi politik ini menumbuhkan optimisme bagi sebagian orang, juga memuakan sebagian orang, atau mungkin ada juga yang sama sekali tidak perduli. Bentuk konstelasi ini adalah koalisi politik Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang diumumkan secara resmi, melalui deklarasi. Calon yang satu melakukannya di Gedung Joeang ’45, yang satu melakukannya di Rumah Polonia, entah apa makna simbolik yang ingin diceritakan.

 

Aneh !

Itulah yang muncul dipikiran ini setelah melihat ada yang berbeda dari calon yang telah diumumkan sebelumnya menemani Joko Widodo, calon presiden PDI-Perjuangan. Sebelumnya Abraham Samad dikatakan akan menjadi Cawapres dari Jokowi, namun tidak menjadi kenyataan. Padahal sebelumnya, beragam rumor yang bahkan keluar dari mulut Jokowi mengisyaratkan bahwa Abraham Samad yang akan menjadi Cawapresnya.

Namun apa daya, alhasil Jokowi lebih memilih Jusuf Kalla menjadi cawapres. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar padahal sebelumnya Jokowi cenderung menyebutkan beberapa hal terkait dengan Abraham Samad, mengapa integritas seorang Abraham Samad jadi pertaruhan dalam hal ini. Mungkin lobi politik di detik-detik akhir bermain, tidak pernah ada kepastian informasi publik untuk hal ini. Bagaimanpun juga, Jokowi-JK yang kemudian mencium bendera merah putih di depan Gedung Joeang ’45 Siang tadi, bukan Abraham Samad yang justru mungkin sedang sibuk di KPK.

Keanehan koalisi ini tidak dapat dimengerti oleh akal sederhana, sungguh. Bagaimana mungkin, seorang Cawapres yang masih menjadi kader Golkar bisa menjadi Cawapres PDI-Perjuangan, sedangkan Golkar mendukung Gerindra? (Baca: Saya masih kader golkar).

Berkaitan dengan hal ini, Aburizal Bakrie yang sangat gembor sejak awal ingin menjadi calon presiden, justru mengurungkan niatnya. Mungkin bisa saja dikatakan ini sebagai hasil dari hitungan politik partai Golkar yang hanya mendapakan 14.75% di legislatif.  Namun, justru dukungan Golkar pada akhirnya ditujukan untuk Gerindra, pasar gembrong yang semula menjadi saksi koalisi PDI-P dan Golkar, berakhir kosong tanpa arti pasti. Partai Golkar sungguh aneh karena diatas kertas sebagai peringkat kedua pemenang pemilu sangat memungkinkan untuk membentuk poros koalisi sendiri dan mengajukan ARB menjadi Capres mereka. Mungkinkah internal partai Golkar terpecah mengingat JK maju sebagai Cawapres Jokowi? Sebagian mungkin mendukung ARB, mungkin sebagian JK, tapi lebih mungkin jika Golkar bermain pada dua kaki seperti pada Pemilu 2014.

 

Aneh !

Semakin saja keanehan koalisi Capres dan Cawapres ini membuat akal sehat seorang awam tidak dapat dimengerti. Kemesraan Hanura mengusung Wiranto-HT juga bercerai pada detik-detik akhir penentuan koalisi (Baca: Wiranto kaget HT ke Gerindra). Calon Wapres kesayangan mereka, tiba-tiba berbelok mendukung Gerindra, tidak jelas apa motifnya.

Semoga amanat mengurus Negara tidak menjadi ajang permainan dalam hal ini, dimana partai menjadi corong suara masyarakat tidak dikebiri hanya untuk satu nama: kekuasaan.

Banyak pertanyaan yang muncul padaku sebagai orang awam, mungkin saja usaha penyamaran yang dilakukan kedua calon ini untuk mendekat pada masyarakat hanya sebuah topeng demokorasi yang menjunjung tinggi masyarakat sebagai ‘tuhan’. Tapi tetap saja, perceraian Wiranto-HT adalah sebuah kegagalan politik dan nilai-nilai etika dalam berpolitik. (Baca: Wiranto menyamar jadi tukang becak)

Namun tidak dapat dipungkiri, ini adalah ramifikasi dari rendahnya tingkat elektabilitas Hanura di pemilu legilslatif. Motif sederhananya jelas demikian bahwa koalisi dibentuk berasaskan pada kesamaan kepentingan, bukan kesamaan nilai maupun ideologi yang membentuk kepentingan-kepentingan itu sendiri.

 

Aneh !

Pembentukan koalisi politik ini seakan menjadi ajang balas dendam antar tokoh-tokoh politik, menjustifikasi bahwa partai politik saat ini memiliki kecenderungan semakin oportunis dan minim kader. Rhoma Irama, Pangeran Dangdut yang sebelumnya diisukan menjadi Capres PKB,  menyatakan untuk menarik dukungannya terhadap PKB ketika PKB memutuskan untuk mendukung koalisi Jokowi-JK. Berita buruknya, Rhoma Irama justru menyatakan dukungannya pada Gerindra yang mengusung Prabowo-Hatta (Baca: Prabowo bertemu Rhoma Irama).

 

Apakah keanehan ini hanya hinggap pada nalar pikiranku? mungkin…

 

Written by polhaupessy

Mei 19, 2014 pada 10:38 am

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Ini mungkin kenapa koalisi Capres-Cawapres saya rasakan juga aneh (Baca tulisan saya lainnya: Gugatan Capres-Cawapres Aneh) […]

  2. HT gak mungkin ikut wiranto dukung jokowi, mau ditaruh mana muka HT kalo ktemu paloh di kubu jokowi hahahahaha

    Wildan Faisol

    Juli 12, 2014 at 5:42 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: