senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Jusuf Kalla, Binatang Politik-nya Machiavelli

leave a comment »

“We Are All Political Animals” – Aristotle

Politik merupakan binatang buas tidak bernalar yang tidak dapat membedakan mana kawan dan mana lawan. Dalam konteks binatang buas, politik memang tidak bisa mengidentifikasi lawan-kawan dengan jelas, namun tetap bisa membedakan mana yang merupakan famili atau keluarga. Metafora politik sebagai binatang buas memang nyata, bukanlah sebuah wacana.

Pak Mohammad Jusuf Kalla misalnya dalam tulisan ini, saya posisikan sebagai binatang politik tersebut, yang buas serta tidak bisa membedakan mana lawan dan kawan. Untuk menghindari sebutan fitnah dalam tulisan ini, saya rasa perlu untuk menjelaskan konteks “binatang politik” dalam tulisan ini agar dapat berlaku sebagai produk pemikiran intelektual. Saya akan coba melihat bagaimana etika politik Pak JK, yang menyerupai binatang politik yang buas. Dalam buku “Il Principe”, Machiavelli menggambarkan bahwa manusia adalah sebuah binatang politik yang haus kekuasaan, sosok yang mengabaikan aturan, norma, serta nilai masyarakat hanya untuk melakukan pemenuhan kepuasan kekuatannya. Malahan, Machiavelli juga menggambarkan bahwa  manusia dengan sifat seperti binatang buas dalam politik telah meninggalkan akal sehatnya.

 
 
Karikatur Jusuf Kalla
 
Siapa bilang Pak Jokowi tidak punya pengalaman? Dia (Jokowi) kan Gubernur DKI Jakarta, pengalaman dia berasal dari (ketika menjabat) Walikota Solo. Tapi jangan tiba-tiba karena dia (Jokowi) terkenal di Jakarta, tiba-tiba dia mencalonkan diri menjadi Presiden. Bisa hancur negeri ini, bisa masalah Negeri ini

“.Jangan dicampuradukan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta kemudian menjadi presiden, nanti bisa kacau Negeri ini, tidak punya nilai Negeri ini

 
 
 
 

Saya tergugah, melihat etika berpolitik di Bangsa ini karena pernyataan Pak JK.  Pak JK sebagai Cawapres Jokowi yang merupakan hasil konsensus PDI-Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, dan Hanura (Mungkin juga Golkar tidak secara De Facto), seharusnya memiliki penilaian politik pribadi yang visioner tidak berasaskan pada kekuasaan. Kalau menganalisa berdasarkan pernyataan di atas, seharusnya Pak JK akan berpegang pada apa yang ia katakan dan mentransfer perkataan tersebut pada implementasi tindakan yang nyata. Itu adalah integritas.

Menurut hemat saya, ini berarti Integritas berpolitik yang seharusnya menjadi tameng pelindung dari kesesatan alam berpikir justru digadaikan dengan kekuasaan yang secara harfiah saat ini diartikan sebagai jabatan. Pak JK tidak memiliki integritas berpolilitik, ucapan beliau dan tindakan beliau di dikte berdasarkan kepentingan dan kesempatan yang berputar, bukan berdasarkan prinsip yang beliau yakini.

Untuk menutup tulisan ini, Pembaca yang budiman harus mengerti bahwa politik pada dasarnya adalah seperti yang diungkapkan oleh Laswell dan Kaplan (1950, yaitu adalah bahwa “Politics is who gets what, how and when”. Ini memang relevan hingga saat ini, bahkan kalau Negara-Bangsa pun  hilang. Dalam alam pemahaman seperti ini, maka pembaca yang budiman akan dapat mengerti mengapa binatang politik relevan dengan Pak Jusuf Kalla. Saya benar-benar harus memuji Machiavelli yang mendefinisikan “Binatang Politik” sekitar hampir 600 tahun lalu.

Ini mungkin kenapa koalisi Capres-Cawapres saya rasakan juga aneh (Baca tulisan saya lainnya: Gugatan Capres-Cawapres Aneh)

Semoga saya salah,

#Video Pernyataan Jusuf Kalla tentang Jokowi

Written by polhaupessy

Mei 27, 2014 pada 9:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: