senahoynevets

Berpikir Kiri, Bertindak Kanan

Prasyarat Pemilihan Tidak Langsung

leave a comment »

Upaya DPR untuk mengesahkan RUU Pilkada sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memicu polemik dalam diskursus publik. RUU Pilkada mengamanatkan bahwa Pilkada dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). 

Hal ini memicu Pro dan Kontra terhadap RUU Pilkada, khususnya antar parpol Koalisi Merah-Putih yang pro terhadap RUU Pilkada, yaitu Gerindra, Golkar, PPP, PAN, PKB, dan parpol koalisi yang kontra terhadap RUU Pilkada yaitu PDIP, Hanura, dan PKB, terakhir menyusul Partai Demokrat.

Berdasarkan data Lingkaran Survei Indonesia (LSI), 81% rakyat Indonesia mendukung pelaksanaan Pilkada Langsung. Meskipun bukan indikator yang bersifat umum, setidaknya angka tersebut menggambarkan kegusaran suara rakyat tentang RUU Pilkada. Meskipun 81% rakyat mendukung pelaksanaan pemlihan langsung, namun justru partai politik yang seharusnya mengayomi suara konstituen rakyatnya berprilaku kontradiktif.

Merujuk pada Data Litbang Kompas, pada bulan Mei 2014, seluruh partai peserta pemilu mendukung pelaksanaan pemilu secara langsung. Namun  justru terjadi perpecahan suara parpol mengenai pelaksanaan pemilu langsung maupun tidak langsung pada bulan September 2014.

Hal ini dipahami sebagai anomali politik yang unik, yaitu bahwa parpol yang kalah dalam pemilu presiden dan termasuk dalam Koalisi Merah-Putih mendukung pemilihan tidak langsung, sedangkan partai-partai Koalisi pemenang pemilu justru mendukung pemilihan langsung. Akibatnya, RUU Pilkada justru mencitrakan politik bagi-bagi kekuasaan.

Dua Prasyarat
Pelaksanaan pemilihan baik secara langsung maupun tidak langsung adalah tindakan yang konstitusional. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pelaksanaan pemilihan secara tidak langsung di masa depan dapat dilakukan. Setidaknya ada dua prasyarat utama yang harus jadi pertimbangan apabila kita ingin benar-benar melaksanakan pemilihan tidak langsung.

Prasyarat pertama untuk melaksanakan pemilihan tidak langsung adalah pembenahan terhadap partai politik. Sebagai penyedia kader-kader yang akan dicalonkan menjadi wakil rakyat, maka penjaminan mutu kualitas kader-kader partai adalah sebuah hal yang wajib dilakukan oleh partai politik. Yang terpenting, prilaku elit kader partai yang harus memiliki visi meletakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi dan golongan harus dijamin prioritasnya.

Selain itu, masih terdapat kesenjangan antara pemilih dan elit partai. Belum lagi, apabila kesejangan itu dilihat dari geografis wilayah antara pemilih Jawa dan Non-Jawa. Survei yang dilakukan Indikator pada 2013 menyebutkan sebesar 85.5% pemilih merasa tidak memiliki kedekatan terhadap elit politik yang dipilihnya. Hal ini, berpengaruh terhadap konsolidasi pemilihan tidak langsung, yang akan cenderung diskriminatif dan tidak mencerminkan semangat demokrasi.

Kedua, pemilihan tidak langsung dapat dilakukan apabila kedewasaan politik rakyat telah terlembaga. Artinya, kesiapan prilaku pemilih juga harus dipersiapkan. Sebab, tanpa hadirnya rakyat sebagai pemilih-pemilih yang memahami substansi demokrasi, maka transaksi politik uang akan menjadi subur mewarnai hubungan antara calon wakil rakyat dengan pemilihnya. Ini justru sikap politik yang justru membodohi rakyat.

Data Lembaga Survei Indikator Politik mencatat, bahwa terdapat 41.5% masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa pelaksanaan pelaksanaan politik uang merupakan hal yang wajar dan bisa ditolerir.

Artinya, pemahaman masyarakat terhadap politik yang substantif masih rendah. Ditambah lagi, para elit membiasakan pembodohan politik kepada masyarakat demi mendapat kuasa dapat makin menyuburkan transaksi politik uang.

Oleh karenanya diperlukan pendidikan politik yang dilakukan oleh Parpol terhadap masyarakat secara komprehensif. Diperlukan satu wadah bersama bagi partai politik untuk memberikan pendidikan politik yang tidak semata-mata doktrinasi politik para konstituennya. Sehingga, proses pendidikan politik tidak lagi ditafsirkan sebagai sebuah hal yang bersifat parsial atau “masing-masing” partai politik. Tetapi, hal itu jadi urusan bersama sebagai tanggung jawab moral politk. 

Urgensi RUU
Pelaksanaan pemilihan tidak langsung di Indonesia sangatlah dimungkinkan untuk dilakukan sejauh cara-cara konstitusional jadi alat perjuangan. Namun urgensi pelaksanaannya tidak untuk dilakukan saat ini. Sekarang, urgensi pengesahan RUU Pilkada perlu untuk dikaji kembali agar lebih matang dalam tahapan teknis operasionalnya.
Periode tugas anggota DPR yang akan berakhir kurang dari seminggu lagi, justru mencitrakan anggota DPR yang sangat politis dan tidak bertanggung jawab, bahkan berpihak pada kepentingan elit dibandingkan rakyatnya.

Seperti tergambar pada beragam sikap fraksi yang terpecah. Front muda Golkar ala Yoris Raweyai mendukung pemilihan langsung, front PPP ala Rohamurhuziy juga ingin mendukung pelaksanaan pemilihan langsung, termasuk juga perbedaan sikap DPP Demokrat dengan fraksinya di DPR yang belum jelas akan mendukung pemilihan langsung atau tidak langsung.

Perlu diingat bahwa tidak akan ada jaminan bahwa pemilihan tidak langsung nantinya akan lebih baik dibandingkan pemilihan langsung, baik dari segi transparansi dan akuntabilitas, dan yang terpenting adalah dari segi pedewasaan politik rakyat.

Oleh karena itu, dibandingkan mengesahkan RUU Pilkada sekarang, urgensinya adalah membenahi sistem pemilihan langsung yang merupakan perwujudan cita-cita rakyat pada era reformasi.

Masih ada ide-ide lain seperti pelaksanaan pemilu serentak yang diyakini akan menghemat anggaran negara hingga Rp. 20 T, dimana menurut Kemendagri menghemat hampir 50% anggaran.

Jangan pangkas substansi demokrasi dan suara “tuhan” hanya dengan beralasan bahwa biaya politik (High Cost Politics) pilkada langsung lebih mahal dibandingkan pemilihan tidak langsung.

Written by polhaupessy

September 26, 2014 pada 5:31 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: